Life is always in the balance
and being in love, it's a life balanced.
It does.
Love surrounded by strong believe, that's what i have NOW.
Eventhough I love to give my tomorrow, there is no tomorrow.
Nothing i can promise for tomorrow.
Stay and leaving just a question of life.
Love comes and goes without asking.
unpredictable...
Dear my prince,
I'll give my best to keep NOW become FOREVER, if u said so.
Coz with no doubt, I do wanna stay here.
I do.
to be continued...
Monday, October 25, 2010
Thursday, October 7, 2010
(24) Sabtu ceriaaaaaaaaaa ;)
Akhir pekan awal Oktober 2010, adalah salah satu dari sekian banyak moment berkesanku bersama kehidupan. Tulisan ini kubagi dan kunyatakan sebagai salah satu bentuk ekspresi bersyukur-ku atas banyak hal baik yang Tuhan izinkan terjadi padaku. Sebelumnya, sempat terpikir untuk memisahkan tulisan ini dari kisah "Esprit Glow". Tetapi kemudian aku menyadari, bahwa kisah ini pun sangat bertaut dengan proses perjalanan 'rasa' ku bersama sang pangeran.
Bagaimana semua saling mengait satu sama lain ???
Tak bisa lain kukatakan bahwa simpul yang menautkan kami adalah "spirit" teman...
Ya. True spirit yang membuat kisah kami saling terhubung satu sama lain.
Lebih dari itu, keterkaitan kisah ini adalah karena orang yang akan kuceritakan (selanjutnya akan kutulis dengan nama panggilan 'Bro'), juga temasuk salah satu dari sekian orang yang bersedia berbagi kebeningan doa atas nama cinta yang aku rasakan untuk pangeranku.
***
Perkenalanku dengan Bro difasilitasi oleh seorang sahabat dekatku. Awalnya sangat sederhana, bermula dari ‘statement’ Bro yang dibagi ke aku oleh temanku. Radar intuisiku seketika menangkap kalau Bro ‘different’. Pada sahabatku aku minta untuk dikenalkan. Kami pun berkenalan. Surprise lagi buatku ketika mengetahui, bahwa ternyata sudah sejak beberapa tahun yang lalu sahabatku ini berniat mengenalkan aku pada Bro. Bahkan, pada satu waktu ketika aku dan Bro berada di kota yang sama, dia berniat mempertemukan dan memperkenalkan kami. Tapi karena sempitnya waktu, niat ditunda oleh sahabatku. Aku sendiri sama sekali tidak tahu menahu mengenai niatnya. Baru beberapa bulan yang lalu kami dikenalkan, dan baru beberapa hari yang lalu sahabatku terbuka tentang niat ‘terselubung’nya itu. Sahabatku bilang, tampaknya memang baru sekarang jodohnya kami untuk dipertemukan. Buatku sendiri: everything just in perfect time ;).
Well..well..well… perbincangan pun dimulai…
Aku menulis surat elektronik padanya, bertanya banyak hal, dan mendapati dia berkenan menjawab dan mendampingi rasa ingin tahuku dengan perhatian dan kesabaran. Belakangan kuketahui ternyata perbincangan melalui surat dengannya, bukanlah sesuatu yang bisa terjadi begitu saja. Suratku sebelum sampai ke Bro ternyata harus melewati semacam proses ‘sortir’ oleh seseorang yang bisa dikatakan 'berkuasa' untuk meneruskan atau menahan surat ku itu. Hmmm… suratku sampai selamat kepada Bro, kurasa juga ada campur tangan rekomendasi sahabatku ;).
Bersama Bro aku menemukan dan merasakan atmosfir perbincangan yang 'menggigit'. Pada sosoknya aku menemukan pribadi dengan keunikan yang menurutku sangat 'limited edition'. Teman, aku selalu mudah terpikat dengan orang-orang yang dalam jiwanya menyala semangat untuk 'hidup' dan 'menghidupi' kehidupan. Orang-orang yang peduli tidak hanya tentang hidupnya sendiri, tetapi penuh kasih pada lebih banyak hidup orang lain. Orang-orang yang menampilkan kesederhaan tetapi sesungguhnya menyimpan kedalaman dan kekayaan jiwa yang luar biasa. Orang-orang yang tidak ‘kalap’ dengan pernghormatan manusia, karena sadar hanya Tuhan yang layak untuk dimuliakan dan diagungkan. Sayang, orang-orang seperti ini cukup langka untuk ditemukan, karena dunia semakin hari semakin sesak dengan orang-orang berkepribadian ‘topeng’. Aku bersyukur telah menemukan lagi satu dari sedikit orang-orang 'langka' itu.
Bro memunculkan banyak ‘curious’ dalam hatiku. Melalui perbincangan2 kecil, dia mengajakku untuk meneropong sekaligus menyelami lebih ‘jauh’ dan lebih ‘dalam’ tentang hakikat dari banyak hal. Bagi Bro… Jiwa yang ‘hidup’ (Bro mungkin akan membahasakannnya dengan ‘freedom’) adalah titik awal dari semua hal pengundang keajaiban ke dalam hidup seseorang. Bahwa jiwa yang ‘mencari’ akan selalu diiringi oleh pembinaan dan pendampingan secara langsung oleh Tuhan, bahwa Tuhan tidak pernah mengingkari hambaNya yang berserah. Latar belakang pengalaman hidupnya yang masih samar buatku, kuyakin telah menjadi proses yang mengasah, menghempaskan, melukai, juga menguatkan, sehingga membentuk dan menjadikan Bro seperti riil adanya dia saat ini. Semoga Tuhan selalu mencintainya.
Pernah Bro berbicara tentang proses ‘transformasi diri’ yang menurut Bro sangat sederhana sejatinya. Transformasi memang selalu melesatkan orang, dan kebanyakan orang menginginkan karena bagusnya saja, tetapi lupa bahwa di belakang semua itu akan selalu ada proses yang harus di’bayar’. Bro tidak suka sesuatu yang ragu dan ambigu. Menurut dia, kontemplasi itu ada bersama tindakan, bukan mendahului tindakan. Hanya dibutuhkan ‘kemauan’ untuk memilih, sedang keberanian adalah bentuk motivasi saja.
dan lain-lain…. dan lain-lain…. :)
Satu lagi dari banyak hal yang membuatku terkesan adalah ketika Bro berkenan berbagi pemahaman dan pengalamannya tentang bagaimana “mendidik dengan cinta yang sadar". Aku punya minat yang sangat besar dalam bidang pendidikan. Yaitu pendidikan yang berbicara tidak hanya sebatas transfer ilmu untuk memenuhi ranah kognitif, tetapi lebih jauh, bagaimana menjalankan konsep pendidikan yang dilandasi dan diisi oleh cinta, dalam keteladanan dan pendampingan yang utuh dari orangtua. Menjalankan konsep pendidikan seperti demikian, dibutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan kognitif dari para orangtua. Mengutip perkataan Bro “Cinta yang membimbing, bukan ilmu, bukan uang”.
Satu catatan penting buatku, Bro, bukan hanya bicara, tetapi dia melakukannya. Dalam konteks pendidikan ini, Bro bahkan sudah membagi sebagian dari pemahaman dan perilakunya tentang ‘cinta yang sadar’ itu ke dalam sebuah buku. Aku beruntung mendapat satu buku, dikirim langsung ke alamatku. Di halaman awal Bro selipkan pesan singkat: “Ivy, janganlah ini menambah berat permenunganmu, tapi hendaklah ini meneguhkanmu, melangkah dan mewujud”. Ketika membaca itu aku merasakan ada energi yang masuk ke tubuhku, membuatku bergetar dan tersenyum happy. Bagiku, itu adalah pertanda bahwa Bro mengirim kata-kata itu dengan hati yang tulus untukku. Gelombang ketulusan tidak pernah salah alamat, itu yang sejak dulu kuyakini.
Bro banyak memberitahu dan membantuku. Pernah satu waktu aku bertanya tentang sesuatu padanya. Membaca jawabannya membuatku tertawa dan tersenyum hampir seharian akibat isi surat yang sebenarnya ‘menampar’ tetapi dikemas dengan jenaka. Pada saat kali pertama aku menerima telpon langsung dari Bro, kusinggung ‘tamparan’ nya itu, dan kami pun tertawa bersama. Bro mentertawakan aku, dan aku mentertawakan diri sendiri.
Ahhhh… You know my friends… Jika saat ini aku tidak sedang dalam komunikasi yang terputus, akan kubagi dengan pangeranku tentang berbagai isi perbincanganku bersama Bro. Kuyakin, pangeranku akan menyukainya, dan kami akan bersemangat untuk menelusuri lebih jauh tentang hal-hal baru (juga tentang hal-hal lama yang disadarkan dan diingatkan kembali) yang disampaikan oleh Bro.
Berbagi dengan orang-orang yang istimewa di hatimu, membuat semua akan menjadi lebih indah dan bermakna. Perbincanganku dengan pangeran, tak selalu tentang hal-hal yang serius. Diantara berbagai celetukan konyolnya yang sangat mudah membuatku tertawa, dia senang berdiskusi dan berbincang tentang permasalahan umat. Diantaranya bagaimana situasi perbedaaan yang seringkali disikapi dengan pikiran yang sempit lagi dangkal, pertengkaran2 dan pertikaian sesama saudara, sampai perbincangan tentang industri musik yang sering buat dia ‘gemes’ karena dianggap terlalu mengikuti selera pasar sehingga mengesampingkan kualitas...hehehe.
Pangeranku, juga Bro, sama-sama prihatin pada banyak hal yang mungkin bagi kebanyakan orang sudah dianggap ‘biasa’ dan tidak perlu dipikirkan. Mereka mengambil jalur yang tidak biasa dalam cara berpikir, sudut penyikapan, dan aktualisasi tindakan. Mereka ‘mencari’ dan senang ‘mencari’, karena mereka adalah seorang 'pencari'.
****
I miss my prince...
****
To be continued….
Bagaimana semua saling mengait satu sama lain ???
Tak bisa lain kukatakan bahwa simpul yang menautkan kami adalah "spirit" teman...
Ya. True spirit yang membuat kisah kami saling terhubung satu sama lain.
Lebih dari itu, keterkaitan kisah ini adalah karena orang yang akan kuceritakan (selanjutnya akan kutulis dengan nama panggilan 'Bro'), juga temasuk salah satu dari sekian orang yang bersedia berbagi kebeningan doa atas nama cinta yang aku rasakan untuk pangeranku.
***
Perkenalanku dengan Bro difasilitasi oleh seorang sahabat dekatku. Awalnya sangat sederhana, bermula dari ‘statement’ Bro yang dibagi ke aku oleh temanku. Radar intuisiku seketika menangkap kalau Bro ‘different’. Pada sahabatku aku minta untuk dikenalkan. Kami pun berkenalan. Surprise lagi buatku ketika mengetahui, bahwa ternyata sudah sejak beberapa tahun yang lalu sahabatku ini berniat mengenalkan aku pada Bro. Bahkan, pada satu waktu ketika aku dan Bro berada di kota yang sama, dia berniat mempertemukan dan memperkenalkan kami. Tapi karena sempitnya waktu, niat ditunda oleh sahabatku. Aku sendiri sama sekali tidak tahu menahu mengenai niatnya. Baru beberapa bulan yang lalu kami dikenalkan, dan baru beberapa hari yang lalu sahabatku terbuka tentang niat ‘terselubung’nya itu. Sahabatku bilang, tampaknya memang baru sekarang jodohnya kami untuk dipertemukan. Buatku sendiri: everything just in perfect time ;).
Well..well..well… perbincangan pun dimulai…
Aku menulis surat elektronik padanya, bertanya banyak hal, dan mendapati dia berkenan menjawab dan mendampingi rasa ingin tahuku dengan perhatian dan kesabaran. Belakangan kuketahui ternyata perbincangan melalui surat dengannya, bukanlah sesuatu yang bisa terjadi begitu saja. Suratku sebelum sampai ke Bro ternyata harus melewati semacam proses ‘sortir’ oleh seseorang yang bisa dikatakan 'berkuasa' untuk meneruskan atau menahan surat ku itu. Hmmm… suratku sampai selamat kepada Bro, kurasa juga ada campur tangan rekomendasi sahabatku ;).
Bersama Bro aku menemukan dan merasakan atmosfir perbincangan yang 'menggigit'. Pada sosoknya aku menemukan pribadi dengan keunikan yang menurutku sangat 'limited edition'. Teman, aku selalu mudah terpikat dengan orang-orang yang dalam jiwanya menyala semangat untuk 'hidup' dan 'menghidupi' kehidupan. Orang-orang yang peduli tidak hanya tentang hidupnya sendiri, tetapi penuh kasih pada lebih banyak hidup orang lain. Orang-orang yang menampilkan kesederhaan tetapi sesungguhnya menyimpan kedalaman dan kekayaan jiwa yang luar biasa. Orang-orang yang tidak ‘kalap’ dengan pernghormatan manusia, karena sadar hanya Tuhan yang layak untuk dimuliakan dan diagungkan. Sayang, orang-orang seperti ini cukup langka untuk ditemukan, karena dunia semakin hari semakin sesak dengan orang-orang berkepribadian ‘topeng’. Aku bersyukur telah menemukan lagi satu dari sedikit orang-orang 'langka' itu.
Bro memunculkan banyak ‘curious’ dalam hatiku. Melalui perbincangan2 kecil, dia mengajakku untuk meneropong sekaligus menyelami lebih ‘jauh’ dan lebih ‘dalam’ tentang hakikat dari banyak hal. Bagi Bro… Jiwa yang ‘hidup’ (Bro mungkin akan membahasakannnya dengan ‘freedom’) adalah titik awal dari semua hal pengundang keajaiban ke dalam hidup seseorang. Bahwa jiwa yang ‘mencari’ akan selalu diiringi oleh pembinaan dan pendampingan secara langsung oleh Tuhan, bahwa Tuhan tidak pernah mengingkari hambaNya yang berserah. Latar belakang pengalaman hidupnya yang masih samar buatku, kuyakin telah menjadi proses yang mengasah, menghempaskan, melukai, juga menguatkan, sehingga membentuk dan menjadikan Bro seperti riil adanya dia saat ini. Semoga Tuhan selalu mencintainya.
Pernah Bro berbicara tentang proses ‘transformasi diri’ yang menurut Bro sangat sederhana sejatinya. Transformasi memang selalu melesatkan orang, dan kebanyakan orang menginginkan karena bagusnya saja, tetapi lupa bahwa di belakang semua itu akan selalu ada proses yang harus di’bayar’. Bro tidak suka sesuatu yang ragu dan ambigu. Menurut dia, kontemplasi itu ada bersama tindakan, bukan mendahului tindakan. Hanya dibutuhkan ‘kemauan’ untuk memilih, sedang keberanian adalah bentuk motivasi saja.
dan lain-lain…. dan lain-lain…. :)
Satu lagi dari banyak hal yang membuatku terkesan adalah ketika Bro berkenan berbagi pemahaman dan pengalamannya tentang bagaimana “mendidik dengan cinta yang sadar". Aku punya minat yang sangat besar dalam bidang pendidikan. Yaitu pendidikan yang berbicara tidak hanya sebatas transfer ilmu untuk memenuhi ranah kognitif, tetapi lebih jauh, bagaimana menjalankan konsep pendidikan yang dilandasi dan diisi oleh cinta, dalam keteladanan dan pendampingan yang utuh dari orangtua. Menjalankan konsep pendidikan seperti demikian, dibutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan kognitif dari para orangtua. Mengutip perkataan Bro “Cinta yang membimbing, bukan ilmu, bukan uang”.
Satu catatan penting buatku, Bro, bukan hanya bicara, tetapi dia melakukannya. Dalam konteks pendidikan ini, Bro bahkan sudah membagi sebagian dari pemahaman dan perilakunya tentang ‘cinta yang sadar’ itu ke dalam sebuah buku. Aku beruntung mendapat satu buku, dikirim langsung ke alamatku. Di halaman awal Bro selipkan pesan singkat: “Ivy, janganlah ini menambah berat permenunganmu, tapi hendaklah ini meneguhkanmu, melangkah dan mewujud”. Ketika membaca itu aku merasakan ada energi yang masuk ke tubuhku, membuatku bergetar dan tersenyum happy. Bagiku, itu adalah pertanda bahwa Bro mengirim kata-kata itu dengan hati yang tulus untukku. Gelombang ketulusan tidak pernah salah alamat, itu yang sejak dulu kuyakini.
Bro banyak memberitahu dan membantuku. Pernah satu waktu aku bertanya tentang sesuatu padanya. Membaca jawabannya membuatku tertawa dan tersenyum hampir seharian akibat isi surat yang sebenarnya ‘menampar’ tetapi dikemas dengan jenaka. Pada saat kali pertama aku menerima telpon langsung dari Bro, kusinggung ‘tamparan’ nya itu, dan kami pun tertawa bersama. Bro mentertawakan aku, dan aku mentertawakan diri sendiri.
Ahhhh… You know my friends… Jika saat ini aku tidak sedang dalam komunikasi yang terputus, akan kubagi dengan pangeranku tentang berbagai isi perbincanganku bersama Bro. Kuyakin, pangeranku akan menyukainya, dan kami akan bersemangat untuk menelusuri lebih jauh tentang hal-hal baru (juga tentang hal-hal lama yang disadarkan dan diingatkan kembali) yang disampaikan oleh Bro.
Berbagi dengan orang-orang yang istimewa di hatimu, membuat semua akan menjadi lebih indah dan bermakna. Perbincanganku dengan pangeran, tak selalu tentang hal-hal yang serius. Diantara berbagai celetukan konyolnya yang sangat mudah membuatku tertawa, dia senang berdiskusi dan berbincang tentang permasalahan umat. Diantaranya bagaimana situasi perbedaaan yang seringkali disikapi dengan pikiran yang sempit lagi dangkal, pertengkaran2 dan pertikaian sesama saudara, sampai perbincangan tentang industri musik yang sering buat dia ‘gemes’ karena dianggap terlalu mengikuti selera pasar sehingga mengesampingkan kualitas...hehehe.
Pangeranku, juga Bro, sama-sama prihatin pada banyak hal yang mungkin bagi kebanyakan orang sudah dianggap ‘biasa’ dan tidak perlu dipikirkan. Mereka mengambil jalur yang tidak biasa dalam cara berpikir, sudut penyikapan, dan aktualisasi tindakan. Mereka ‘mencari’ dan senang ‘mencari’, karena mereka adalah seorang 'pencari'.
****
I miss my prince...
****
To be continued….
Monday, October 4, 2010
(23) Follow your heart
Follow my heart…
itulah yang aku lakukan ketika memulai semua perjalanan 'rasa' ini. Tak tahu bagaimana akan menjalaninya, juga akan berujung kemana semua proses ini. Titik awal semuanya adalah keyakinan. Keyakinan yang kupilih dan kuikuti jalannya. Kepada Tuhan, aku mendedikasikan diriku sepenuhnya pada proses ini, pada keyakinan ini. Aku memilih untuk menerima dan bertindak atas keyakinan ini. Dan aku mendapati betapa Tuhan telah memudahkan aku menjalani keyakinan ini.
“Mungkin...Keyakinan itu adalah motivasi dari Tuhan untukmu”, begitu sejawat yang kutuakan dan kuhormati mewejangi ku, ketika aku berbagi padanya tentang bibit keyakinan yang tumbuh misterius dalam hatiku, pada awal-awal masa perkenalanku dengan pangeran. Kukatakan misterius karena aku memang tak mampu menjelaskannya dengan akal dan nalar. Pertemuan fisik dengan pangeranku hanya (baru) terjadi 2 kali. Komunikasi kami sangat tak bisa kukatakan intens. Tapi aku mendapati hatiku mampu untuk mempercayainya, tanpa perlu diyakinkan oleh siapapun atau apapun.
Follow your heart...
Ya, jika kau berada di satu simpang keyakinan, dan kau mencoba berbagi dilema itu dengan orang lain, ntah itu orang tua, keluarga terdekat, atau sahabat: jawaban yang biasanya akan kau dapat adalah: just follow your heart...
Kuberitahu teman, tak mudah menyerahkan semuanya pada apa yang hatimu katakan. Hati akan selalu jujur, dan kejujuran akan selalu membutuhkan keberanian, baik untuk menerima nya, juga untuk bertindak atas penerimaan itu. Bahasa hati adalah murni, dan akan selalu benar, karena Tuhan ada disana. Hanya terkadang, kebenaran itu terselimuti dengan sangat halus oleh berbagai pertimbangan pemikiran yang seringkali justru menyeret kita semakin menjauh dari substansi dan akar masalah.
Just follow your heart my prince...
Semampu yang bisa kau dengarkan dari apa yang hatimu katakan tentang semua ini... just follow it. Aku percaya hatimu akan jernih melihat ini semua. Kau memiliki hati yang lembut, aku merasakan itu. Kelembutan dan kejernihan hatimu, aku yakin akan memudahkanmu untuk mengenali semua rangkaian proses yang membentuk peristiwa ini, satu persatu, dalam bentuknya yang asli.
Perhaps, dalam salah satu celah prosesnya, kau akan menemukan apa yang kau cari selama ini. Penemuan yang akan membawamu pada satu pilihan yang tegas dan jelas. Pilihan yang akan melepaskanmu dari belenggu keragu-raguan. Pilihan yang membuatmu yakin menatap masa depanmu, bersama siapapun yang kau inginkan ada disampingmu untuk berbagi masa depan. Siapapun yang kau yakini...
So, dengan apa yang sudah dan masih kau pilih saat ini…
Berbahagialah pangeranku.... berbahagialah...
Dari hatiku, dalam sayang dan peduliku padamu,
dimanapun aku berada, dan bagaimanapun situasi memisahkan aku darimu,
aku akan selalu menemanimu dengan doa.
selalu...
To be continued…
itulah yang aku lakukan ketika memulai semua perjalanan 'rasa' ini. Tak tahu bagaimana akan menjalaninya, juga akan berujung kemana semua proses ini. Titik awal semuanya adalah keyakinan. Keyakinan yang kupilih dan kuikuti jalannya. Kepada Tuhan, aku mendedikasikan diriku sepenuhnya pada proses ini, pada keyakinan ini. Aku memilih untuk menerima dan bertindak atas keyakinan ini. Dan aku mendapati betapa Tuhan telah memudahkan aku menjalani keyakinan ini.
“Mungkin...Keyakinan itu adalah motivasi dari Tuhan untukmu”, begitu sejawat yang kutuakan dan kuhormati mewejangi ku, ketika aku berbagi padanya tentang bibit keyakinan yang tumbuh misterius dalam hatiku, pada awal-awal masa perkenalanku dengan pangeran. Kukatakan misterius karena aku memang tak mampu menjelaskannya dengan akal dan nalar. Pertemuan fisik dengan pangeranku hanya (baru) terjadi 2 kali. Komunikasi kami sangat tak bisa kukatakan intens. Tapi aku mendapati hatiku mampu untuk mempercayainya, tanpa perlu diyakinkan oleh siapapun atau apapun.
Follow your heart...
Ya, jika kau berada di satu simpang keyakinan, dan kau mencoba berbagi dilema itu dengan orang lain, ntah itu orang tua, keluarga terdekat, atau sahabat: jawaban yang biasanya akan kau dapat adalah: just follow your heart...
Kuberitahu teman, tak mudah menyerahkan semuanya pada apa yang hatimu katakan. Hati akan selalu jujur, dan kejujuran akan selalu membutuhkan keberanian, baik untuk menerima nya, juga untuk bertindak atas penerimaan itu. Bahasa hati adalah murni, dan akan selalu benar, karena Tuhan ada disana. Hanya terkadang, kebenaran itu terselimuti dengan sangat halus oleh berbagai pertimbangan pemikiran yang seringkali justru menyeret kita semakin menjauh dari substansi dan akar masalah.
Just follow your heart my prince...
Semampu yang bisa kau dengarkan dari apa yang hatimu katakan tentang semua ini... just follow it. Aku percaya hatimu akan jernih melihat ini semua. Kau memiliki hati yang lembut, aku merasakan itu. Kelembutan dan kejernihan hatimu, aku yakin akan memudahkanmu untuk mengenali semua rangkaian proses yang membentuk peristiwa ini, satu persatu, dalam bentuknya yang asli.
Perhaps, dalam salah satu celah prosesnya, kau akan menemukan apa yang kau cari selama ini. Penemuan yang akan membawamu pada satu pilihan yang tegas dan jelas. Pilihan yang akan melepaskanmu dari belenggu keragu-raguan. Pilihan yang membuatmu yakin menatap masa depanmu, bersama siapapun yang kau inginkan ada disampingmu untuk berbagi masa depan. Siapapun yang kau yakini...
So, dengan apa yang sudah dan masih kau pilih saat ini…
Berbahagialah pangeranku.... berbahagialah...
Dari hatiku, dalam sayang dan peduliku padamu,
dimanapun aku berada, dan bagaimanapun situasi memisahkan aku darimu,
aku akan selalu menemanimu dengan doa.
selalu...
To be continued…
Wednesday, September 29, 2010
(22) Words for her...
Walau kita tak (mungkin belum) saling mengenal dalam ruang fisik, aku yakin kau merasakan ‘sesuatu’ tentang hadirnya aku dalam lingkungan pertemanan kekasihmu. Aku sudah merasakan dan meyakini itu bahkan sebelum kau menemukan fakta tentang 'kebenaran' cintaku pada kekasihmu. Berlatar belakang hubungan yang sudah berjalan bilangan tahun, kebersamaan yang telah terangkai dalam berbagai kisahnya, juga ‘keterikatan’ dan ‘keterhubungan’ emosional satu sama lain di antara kalian berdua... adalah sangat wajar ketika kepekaan dan intuisi mu mengatakan ada 'sesuatu' tentang aku.
Saat kamu khawatir dengan “kebenaran” tentang cinta dan keyakinanku pada kekasihmu, bagiku adalah reaksi yang wajar. Aku hanya berharap semoga kekhawatiran itu tidak menenggelamkanmu dalam prasangka, kebencian dan juga amarah, baik pada kekasihmu, juga padaku. Menerima hadirku sebagai suatu ancaman, sungguh hanya akan membuat hatimu lelah dan terbebani, dan rasanya akan sangat tidak nyaman untuk dirimu sendiri. Kau tidak perlu melewati semua ketidaknyamanan itu jika berkenan memilih untuk merangkul semua realitas ini dalam damai.
Sungguh tak perlu merasa khawatir ketika kau yakin bahwa kekasihmu ada bersamamu, dan kau mempercayainya!!! Kaulah yang saat ini terpilih. Percayalah, sesuatu yang memang sudah Tuhan tetapkan untukmu, tak akan pernah bisa teralihkan pada siapapun. Begitu pula jika sesuatu telah ditetapkan Tuhan bukan untukmu, maka kau pun tak kan pernah bisa mencegahnya untuk teralihkan. Siapapun tak bisa membantah dan mengingkari kenyataan, bahwa Takdir adalah misteri dan kuasa Tuhan.
Tetap jujur kukatakan, bahwa aku dalam rasa cinta yang semakin teguh untuk kekasihmu. Sekali lagi, cinta ini tak menuntut apapun atau siapapun untuk membuatnya ‘ada’. Cinta ini akan bergerak dan mengalir sesuai kodratnya, yang dalam perjalananannya, mungkin akan melukai atau membahagiakan seseorang. Seseorang itu bisa berarti siapapun. Saat ini, fakta jelas berkata bahwa dia memilihmu, bukan aku. Karenanya, jika kau benar mencintai kekasihmu, jadilah cinta yang sebenar-benarnya untuk dia, dan berbahagialah bersama cinta itu.
Di masa depan.. entah kapan itu … esok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan… akan terjawab semua teka-teki Takdir ini. Aku yakin semua ini akan menemukan ‘ujung’nya. Dan selama Tuhan belum memutuskan kehendakNya, setiap dari kita bertiga punya peluang yang sama untuk berikhtiar, memilih, dan memutuskan.
Atas nama cinta yang kita miliki,
dengan ruang istimewa yang sudah kau miliki bersama kekasihmu...
juga aku dengan harapan dan keyakinanku atas pangeranku...
mari kita berjuang dengan cara kita masing-masing.
Berjuang dengan cara yang baik, tanpa melukai arti dari kebaikan itu sendiri.
semoga kita dapat saling mengerti...
to be continued...
Saat kamu khawatir dengan “kebenaran” tentang cinta dan keyakinanku pada kekasihmu, bagiku adalah reaksi yang wajar. Aku hanya berharap semoga kekhawatiran itu tidak menenggelamkanmu dalam prasangka, kebencian dan juga amarah, baik pada kekasihmu, juga padaku. Menerima hadirku sebagai suatu ancaman, sungguh hanya akan membuat hatimu lelah dan terbebani, dan rasanya akan sangat tidak nyaman untuk dirimu sendiri. Kau tidak perlu melewati semua ketidaknyamanan itu jika berkenan memilih untuk merangkul semua realitas ini dalam damai.
Sungguh tak perlu merasa khawatir ketika kau yakin bahwa kekasihmu ada bersamamu, dan kau mempercayainya!!! Kaulah yang saat ini terpilih. Percayalah, sesuatu yang memang sudah Tuhan tetapkan untukmu, tak akan pernah bisa teralihkan pada siapapun. Begitu pula jika sesuatu telah ditetapkan Tuhan bukan untukmu, maka kau pun tak kan pernah bisa mencegahnya untuk teralihkan. Siapapun tak bisa membantah dan mengingkari kenyataan, bahwa Takdir adalah misteri dan kuasa Tuhan.
Tetap jujur kukatakan, bahwa aku dalam rasa cinta yang semakin teguh untuk kekasihmu. Sekali lagi, cinta ini tak menuntut apapun atau siapapun untuk membuatnya ‘ada’. Cinta ini akan bergerak dan mengalir sesuai kodratnya, yang dalam perjalananannya, mungkin akan melukai atau membahagiakan seseorang. Seseorang itu bisa berarti siapapun. Saat ini, fakta jelas berkata bahwa dia memilihmu, bukan aku. Karenanya, jika kau benar mencintai kekasihmu, jadilah cinta yang sebenar-benarnya untuk dia, dan berbahagialah bersama cinta itu.
Di masa depan.. entah kapan itu … esok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan… akan terjawab semua teka-teki Takdir ini. Aku yakin semua ini akan menemukan ‘ujung’nya. Dan selama Tuhan belum memutuskan kehendakNya, setiap dari kita bertiga punya peluang yang sama untuk berikhtiar, memilih, dan memutuskan.
Atas nama cinta yang kita miliki,
dengan ruang istimewa yang sudah kau miliki bersama kekasihmu...
juga aku dengan harapan dan keyakinanku atas pangeranku...
mari kita berjuang dengan cara kita masing-masing.
Berjuang dengan cara yang baik, tanpa melukai arti dari kebaikan itu sendiri.
semoga kita dapat saling mengerti...
to be continued...
Thursday, September 23, 2010
(21) Selingkuh ???
Teman, telah mengemuka beberapa asumsi bahwa kehadiranku dianggap 'merusak' apa yang sudah terjalin antara pangeranku dan kekasihnya. Sungguh, aku merasa perlu untuk meluruskan ini, karena aku ingin menjaga nama baik pangeranku. Dia tidak pernah selingkuh, dan kami tidak berselingkuh. Pangeranku tahu dan mengerti betul bahwa aku tidak pernah memaksa dia dengan semua perasaanku padanya. Aku menghormati dia sebagaimana aku menghormati kekasihnya.
Mari kubagi sebagian fakta dengan lebih lugas…
Aku jatuh cinta dengan seorang pria yang dikenalkan padaku. Kami berkomunikasi sebagai dua orang sahabat, berbicara dan berdiskusi tentang banyak hal. Seiring keyakinan ku yang semakin menguat, aku melugaskan perasaanku padanya. Dia menerima kelugasanku dengan baik, sambil tetap memberiku garis batas bahwa aku tak lebih dari seorang sahabat baginya. Aku tetap mencintainya dengan caraku, membiarkan dia tahu bahwa aku mencintainya selama cinta ini diizinkan oleh Tuhan ada dalam hatiku. Kami saling menghormati pilihan dan batasan kami masing-masing. Teman... apakah bisa hal demikian disebut perselingkuhan???
Bagi siapapun, tentu sah-sah saja untuk memberikan penilaian apapun atas proses ini. Keyakinan yang mengakar misterius dalam hatiku, relasi-relasi unik antara aku dan pangeranku, tak mampu kujelaskan penuh pada setiap orang. Aku hanya berlaku sederhana dengan MENERIMA cinta ini. Maafkan jika aku terkesan egois, namun jika ikhtiarku dianggap menyerobot batas teritori seseorang, ketahuilah, selama komitmen belum dikukuhkan dalam IJAB KABUL, maka semua masih menjadi semesta kemungkinan, baik untukku, pangeranku, juga kekasihya.
Buatku, cinta adalah fitrah manusia yang datang dari Tuhan tanpa kau bisa mengatur tentang kapan tiba waktunya, atau kepada siapa kau hendak jatuh cinta. Cinta dalam bentuknya yang paling dasar adalah sesuatu yang murni dan asli. Sesuatu yang asli tidak memerlukan alasan, perantara ataupun pembenaran untuk menjadi ‘ada’, karena secara hakikat dia sudah benar 'ada'nya. Terima kasihku kepada seorang sahabat yang sudah berkenan berbagi ilmu dan pemahamannya denganku tentang proses mem'bening'kan doa, memisahkan mana yang asli dan mana yang palsu.
Murni dan palsu kadangkala memang sering menjadi bias dan kabur. Mungkin karena niat yang keliru, atau karena penuhnya hati dengan asesoris pemikiran yang sesungguhnya jauh dari substansi. Kebenaran kadang terlampau sederhana hingga kita terlewat untuk mengenalinya. InsyaAllah, telah kukenali cinta ini sebagai sesuatu yang murni, yang datang dari Tuhan untukku, dan aku tak ingin menyia-nyiakannya. Aku yakin, jika berkenan melihat perjalanan proses ini dengan hati yang jernih lagi bening, insyaAllah hanya akan mendapati kenyataan bahwa kita semua hanyalah manusia yang punya kuasa untuk membuat rencana, tetapi tak berkuasa untuk menjadikanya TERJADI tanpa izin dan kehendakNya.
Jika memang harus ada yang tersakiti dengan perjalanan proses ini, ntah itu aku, pangeranku, ataupun kekasihnya... maka itulah realitas yang butuh untuk kami hadapi. Aku yakin semua kejadian ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada kami. Aku hanya ingin meluruskan niat, lalu bergerak positif pada garis ikhtiar. Penting untuk berlaku 'lurus' dalam ikhtiar, karena sungguh... aku meniatkan kebaikan dunia dan akhirat atas semua perjalanan proses ini. So, tak perlu khawatir dengan caraku berproses, karena aku sama sekali tidak berniat menodai proses ini dengan cara-cara yang tidak baik, culas, atau manipulatif. Tuhan Maha Adil dengan semua niat yang tersimpan dalam hati manusia. Kebaikan hanya akan terpaut dengan kebaikan.
Pangeranku tidak berselingkuh dan aku tidak mengajaknya untuk berselingkuh.
Kami hanyalah jiwa-jiwa yang sedang diberi pilihan oleh Tuhan.
Pilihan mana yang akan disetujui olehNya?
Wallahualam bisshawab.
To be continued…
Mari kubagi sebagian fakta dengan lebih lugas…
Aku jatuh cinta dengan seorang pria yang dikenalkan padaku. Kami berkomunikasi sebagai dua orang sahabat, berbicara dan berdiskusi tentang banyak hal. Seiring keyakinan ku yang semakin menguat, aku melugaskan perasaanku padanya. Dia menerima kelugasanku dengan baik, sambil tetap memberiku garis batas bahwa aku tak lebih dari seorang sahabat baginya. Aku tetap mencintainya dengan caraku, membiarkan dia tahu bahwa aku mencintainya selama cinta ini diizinkan oleh Tuhan ada dalam hatiku. Kami saling menghormati pilihan dan batasan kami masing-masing. Teman... apakah bisa hal demikian disebut perselingkuhan???
Bagi siapapun, tentu sah-sah saja untuk memberikan penilaian apapun atas proses ini. Keyakinan yang mengakar misterius dalam hatiku, relasi-relasi unik antara aku dan pangeranku, tak mampu kujelaskan penuh pada setiap orang. Aku hanya berlaku sederhana dengan MENERIMA cinta ini. Maafkan jika aku terkesan egois, namun jika ikhtiarku dianggap menyerobot batas teritori seseorang, ketahuilah, selama komitmen belum dikukuhkan dalam IJAB KABUL, maka semua masih menjadi semesta kemungkinan, baik untukku, pangeranku, juga kekasihya.
Buatku, cinta adalah fitrah manusia yang datang dari Tuhan tanpa kau bisa mengatur tentang kapan tiba waktunya, atau kepada siapa kau hendak jatuh cinta. Cinta dalam bentuknya yang paling dasar adalah sesuatu yang murni dan asli. Sesuatu yang asli tidak memerlukan alasan, perantara ataupun pembenaran untuk menjadi ‘ada’, karena secara hakikat dia sudah benar 'ada'nya. Terima kasihku kepada seorang sahabat yang sudah berkenan berbagi ilmu dan pemahamannya denganku tentang proses mem'bening'kan doa, memisahkan mana yang asli dan mana yang palsu.
Murni dan palsu kadangkala memang sering menjadi bias dan kabur. Mungkin karena niat yang keliru, atau karena penuhnya hati dengan asesoris pemikiran yang sesungguhnya jauh dari substansi. Kebenaran kadang terlampau sederhana hingga kita terlewat untuk mengenalinya. InsyaAllah, telah kukenali cinta ini sebagai sesuatu yang murni, yang datang dari Tuhan untukku, dan aku tak ingin menyia-nyiakannya. Aku yakin, jika berkenan melihat perjalanan proses ini dengan hati yang jernih lagi bening, insyaAllah hanya akan mendapati kenyataan bahwa kita semua hanyalah manusia yang punya kuasa untuk membuat rencana, tetapi tak berkuasa untuk menjadikanya TERJADI tanpa izin dan kehendakNya.
Jika memang harus ada yang tersakiti dengan perjalanan proses ini, ntah itu aku, pangeranku, ataupun kekasihnya... maka itulah realitas yang butuh untuk kami hadapi. Aku yakin semua kejadian ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada kami. Aku hanya ingin meluruskan niat, lalu bergerak positif pada garis ikhtiar. Penting untuk berlaku 'lurus' dalam ikhtiar, karena sungguh... aku meniatkan kebaikan dunia dan akhirat atas semua perjalanan proses ini. So, tak perlu khawatir dengan caraku berproses, karena aku sama sekali tidak berniat menodai proses ini dengan cara-cara yang tidak baik, culas, atau manipulatif. Tuhan Maha Adil dengan semua niat yang tersimpan dalam hati manusia. Kebaikan hanya akan terpaut dengan kebaikan.
Pangeranku tidak berselingkuh dan aku tidak mengajaknya untuk berselingkuh.
Kami hanyalah jiwa-jiwa yang sedang diberi pilihan oleh Tuhan.
Pilihan mana yang akan disetujui olehNya?
Wallahualam bisshawab.
To be continued…
Monday, September 20, 2010
(20) DO the Love....
Ada beberapa nama istimewa yang kupasang ringtone khusus di handphoneku, salah satunya adalah nada panggil untuk nama pangeranku. Amat sangat jarang aku menerima telepon dari pangeranku, dan tengah malam itu, nada panggil istimewa itu membangunkan tidurku, membawa berita tentang aku, pangeranku, dan kekasihnya…
Malam itu adalah malam kami bertiga bertemu dalam kisah ini. Kami bertemu dalam ruang ‘rasa’ dan intuisi melalui kebenaran yang menyeruak ke permukaan. Seseorang terluka karena kebenaran itu. Dia adalah kekasih pangeranku. Sungguh aku tak berniat menyakiti siapapun. Dalam sudut pandangku, setiap sisi konsekuensi dari kebenaran ini adalah ‘ruang belajar’ untuk masing-masing dari kami. Cemburu menjadi wajar, gelisah dalam batas tertentu adalah manusiawi. Sejak awal aku yakin, pada titik waktu tertentu, semua yang terkait proses ini akan mengetahui kebenaran ini. Kebenaran tentang cinta dan keyakinanku. Dalam situasi masing-masing, aku harap kami bertiga dapat tetap saling menghormati.
Lalu, apa yang terpahami oleh hatiku tentang semua rangkaian proses ini???
So far…
Aku merasakan bahwa cinta ini berproses, bergerak, dan beranjak dari waktu ke waktu. Sejak muncul tak terduga dalam hatiku, lalu menguat dalam keyakinan hingga detik ini, cinta ini telah menunjukkan banyak keajaibannya padaku. Aku merasa tak perlu berdebat dengan situasiku yang ‘terlihat’ rumit, ataupun sibuk mempertanyakan kenapa cintaku justru tumbuh untuk seseorang yang sudah memiliki kekasih. Tuhan selalu menyimpan alasan baik untuk setiap kejadian. Cukup jalani semua ini apa adanya. Aku percaya “THERE IS NO COINCIDENCE” in this world, pun termasuk pertemuanku dengan pangeranku.
Aku memahami hidup sebagai rangkaian kesempatan dan pilihan yang disediakan oleh Tuhan. Setiap pilihan membawa serta semua konsekuensinya. Aku telah memilih cinta ini, menetapkan tujuanku, dan berjalan pada garis ikhtiar untuk mewujudkannya. Pada ruang yang berbeda, sejauh yang bisa kupahami dari komunikasi verbalnya padaku, pangeranku pun sudah memilih. Kami sudah memilih jalan masing-masing. Kemana masing-masing pilihan ini akan berujung, tak ada satupun dari kami yang mengetahui. Satu hal yang jelas bagi hatiku, nama pangeran semakin tegap dalam doa-doaku.
Teman, keyakinan ini bergerak misterius dalam hatiku. Jejaknya gaib, tetapi YAKIN itu nyata ada dalam hatiku, tegap dan kokoh. Dari jauh, menembus ratus kilometer, jelas suara pangeranku menghantarkan kalimat “aku tidak akan menghubungimu lagi, aku mencintai pacarku dan tidak mau kehilangan dia”. Aku tidak tahu kenapa, kata-kata itu justru semakin menebalkan keyakinanku atas proses ini. Aku tahu aku akan menangis rapuh jika benar dia terlepas dari sisiku. Tapi semua risiko sebanding dengan berharganya keyakinan ini untuk di perjuangkan. Lillahi Ta’Ala… kuniatkan semua bentuk ikhtiar sebagai bukti dihadapan Tuhan bahwa aku bersungguh-sungguh dengan semua yang kuniatkan atas perasaan dan keyakinan ini.
Kepada Tuhan aku berbicara tentang semuanya, cintaku, harapan dan keyakinanku, juga ketidaktahuan dan ketidakberdayaanku atas kuasaNya. Kepada orangtua aku bebaskan hati mereka untuk jernih melihat proses ini dan menemaniku sesuai arah keyakinan mereka. Alhamdulillah, aku mendapati mereka ada bersamaku dalam doa. Mereka merestui cintaku. Juga sahabat dan teman-teman yang turut berbagi kebeningan dalam doa atas nama cinta yang kurasakan untuk pangeranku. Aku melihat dan merasakan ketulusan yang sebenar-benarnya, seiring harapan mereka semoga Tuhan memberikan yang terbaik untukku dan pangeranku.
Kulepaskan pangeranku untuk berproses dengan keyakinannya, membiarkan dia mengolah semuanya dalam ruang batin yang jernih. Tidak satupun dari kami bertiga yang mampu melawan kuasa Tuhan. Dalam semua harapan dan mimpi kami, aku, pangeranku, dan kekasihnya… kami mutlak dibatasi oleh kehendak Tuhan. Aku telah memilih cintaku, mengikhtiarkannya, lalu menyerahkannya kepada Tuhan…
Mengutip perkataan seorang sahabat
“DO the Love and may LOVE will love you”
semoga DIA selalu mencintaiku…
to be continued….
Malam itu adalah malam kami bertiga bertemu dalam kisah ini. Kami bertemu dalam ruang ‘rasa’ dan intuisi melalui kebenaran yang menyeruak ke permukaan. Seseorang terluka karena kebenaran itu. Dia adalah kekasih pangeranku. Sungguh aku tak berniat menyakiti siapapun. Dalam sudut pandangku, setiap sisi konsekuensi dari kebenaran ini adalah ‘ruang belajar’ untuk masing-masing dari kami. Cemburu menjadi wajar, gelisah dalam batas tertentu adalah manusiawi. Sejak awal aku yakin, pada titik waktu tertentu, semua yang terkait proses ini akan mengetahui kebenaran ini. Kebenaran tentang cinta dan keyakinanku. Dalam situasi masing-masing, aku harap kami bertiga dapat tetap saling menghormati.
Lalu, apa yang terpahami oleh hatiku tentang semua rangkaian proses ini???
So far…
Aku merasakan bahwa cinta ini berproses, bergerak, dan beranjak dari waktu ke waktu. Sejak muncul tak terduga dalam hatiku, lalu menguat dalam keyakinan hingga detik ini, cinta ini telah menunjukkan banyak keajaibannya padaku. Aku merasa tak perlu berdebat dengan situasiku yang ‘terlihat’ rumit, ataupun sibuk mempertanyakan kenapa cintaku justru tumbuh untuk seseorang yang sudah memiliki kekasih. Tuhan selalu menyimpan alasan baik untuk setiap kejadian. Cukup jalani semua ini apa adanya. Aku percaya “THERE IS NO COINCIDENCE” in this world, pun termasuk pertemuanku dengan pangeranku.
Aku memahami hidup sebagai rangkaian kesempatan dan pilihan yang disediakan oleh Tuhan. Setiap pilihan membawa serta semua konsekuensinya. Aku telah memilih cinta ini, menetapkan tujuanku, dan berjalan pada garis ikhtiar untuk mewujudkannya. Pada ruang yang berbeda, sejauh yang bisa kupahami dari komunikasi verbalnya padaku, pangeranku pun sudah memilih. Kami sudah memilih jalan masing-masing. Kemana masing-masing pilihan ini akan berujung, tak ada satupun dari kami yang mengetahui. Satu hal yang jelas bagi hatiku, nama pangeran semakin tegap dalam doa-doaku.
Teman, keyakinan ini bergerak misterius dalam hatiku. Jejaknya gaib, tetapi YAKIN itu nyata ada dalam hatiku, tegap dan kokoh. Dari jauh, menembus ratus kilometer, jelas suara pangeranku menghantarkan kalimat “aku tidak akan menghubungimu lagi, aku mencintai pacarku dan tidak mau kehilangan dia”. Aku tidak tahu kenapa, kata-kata itu justru semakin menebalkan keyakinanku atas proses ini. Aku tahu aku akan menangis rapuh jika benar dia terlepas dari sisiku. Tapi semua risiko sebanding dengan berharganya keyakinan ini untuk di perjuangkan. Lillahi Ta’Ala… kuniatkan semua bentuk ikhtiar sebagai bukti dihadapan Tuhan bahwa aku bersungguh-sungguh dengan semua yang kuniatkan atas perasaan dan keyakinan ini.
Kepada Tuhan aku berbicara tentang semuanya, cintaku, harapan dan keyakinanku, juga ketidaktahuan dan ketidakberdayaanku atas kuasaNya. Kepada orangtua aku bebaskan hati mereka untuk jernih melihat proses ini dan menemaniku sesuai arah keyakinan mereka. Alhamdulillah, aku mendapati mereka ada bersamaku dalam doa. Mereka merestui cintaku. Juga sahabat dan teman-teman yang turut berbagi kebeningan dalam doa atas nama cinta yang kurasakan untuk pangeranku. Aku melihat dan merasakan ketulusan yang sebenar-benarnya, seiring harapan mereka semoga Tuhan memberikan yang terbaik untukku dan pangeranku.
Kulepaskan pangeranku untuk berproses dengan keyakinannya, membiarkan dia mengolah semuanya dalam ruang batin yang jernih. Tidak satupun dari kami bertiga yang mampu melawan kuasa Tuhan. Dalam semua harapan dan mimpi kami, aku, pangeranku, dan kekasihnya… kami mutlak dibatasi oleh kehendak Tuhan. Aku telah memilih cintaku, mengikhtiarkannya, lalu menyerahkannya kepada Tuhan…
Mengutip perkataan seorang sahabat
“DO the Love and may LOVE will love you”
semoga DIA selalu mencintaiku…
to be continued….
Thursday, August 12, 2010
(19) Mendalami keberserahan
Apa yang bisa kau lakukan teman? Ketika rasa dan keyakinanmu tak bergeming, tetapi realitas menampakkan wajah yang apa adanya. Kau menoleh ke belakang, meneliti setiap jejak do’a dan proses yang telah dilalui, kekuatan untuk tidak menyerah dan teguh pada keyakinan bahwa ‘akan tiba waktunya’ untukmu. Kemudian waktu terus membawa langkahmu, sampai saat kamu 'bertemu' dan tanpa ragu bisa mengatakan “inilah yang kucari dan kubutuhkan”. Tapi tetap, Tuhan masih menghamparkan kisahmu seperti puzzle yang belum tersusun….
Dalam salah satu penggal kisahku, aku menulis “berserah tetapi bukan menyerah!” Sungguh, tak mudah merangkum dua kata tersebut dalam proses yang berjalan paralel. Menelusuri arti "tidak menyerah dalam keberserahan" telah membawaku pada gelombang rasa yang tak ternamai. Harapan dan keyakinan yang menguat dalam bayang harap-harap cemas. Keyakinan yang mengakar tapi dalam ketidaktahuan yang mutlak. Ketidaktahuan akan kemana semua ini berujung, definately membutuhkan keberserahan yang bukan basa basi. Keberserahan yang mewujud dalam kepenuhan dan kesadaran hati terdalam…
Banyak diberitakan tentang keajaiban ikhlas. Ketika ‘berserah’ telah menjadi kekuatan yang menggerakkan semesta untuk mendekatkan kita pada cita dan harapan. Tapi kau tak menghitung pamrih dalam berserah. Berserah berarti membiarkan Tuhan bekerja dengan caraNya. Seperti sedang menghadapi pertanyaan Tuhan, apakah sungguh hidup mati kita hanya untukNya. Jika YA, maka berserahlah. Prosesmu pun dijaga oleh alarm nurani yang selalu berbisik tegas pada hatimu tentang ketulusan yang tak bisa direkayasa. Bahwa kau tidak bisa pura-pura yakin, pura-pura mencintai ataupun pura-pura ikhlas... Tuhan Maha Tahu...
Kini, di simpang berbagai pilihan sikap yang tersedia untukku, aku tetap dalam pilihan yang tegas untuk berjuang atas keyakinanku. Tapi aku tak mau angkuh di mata Tuhan. Perjuangan ini ingin selalu kutemani dengan keberserahan yang sempurna di hadapanNya. Aku sedang melatih jiwaku untuk berjuang dalam keberserahan itu. Jelas terasa, dalam salah satu sudut keberserahan, aku mendapatiku diriku tersungkur dalam rasa sakit yang perih. Aku terluka dalam doa untuk kelapangan dan kemudahan pangeranku bersama pilihan hatinya. Mudah ketika berdoa meminta apa yang memang sungguh kita harapkan. Tetapi meminta sesuatu untuk orang lain, yang dengan pengabulan doa itu, kita tahu persis akan menyakiti dan melukai kita???
Separuh dari harapanku atas dia seperti telah memotong doaku. Ada penolakan terselubung, pertarungan antara apa yang kuyakin baik untuk diriku dan apa yang mungkin baik untuk dirinya. Kuberitahu teman, rasanya sakit sekali... Kau mulai terisak dalam tangis, dadamu terasa sempit seperti sedang dihantam oleh bongkah batu besar dan keras. Kau merapuh... Dengan sadar kau melepas doa itu terbang ke langit membawa separuh kekuatanmu, separuh nafasmu, separuh jiwamu... Seperti kau membelah dirimu, merelakan bagian yang telah membuatmu menjadi utuh untuk diberikan kepada orang lain. Kau tahu dan yakin bahwa Tuhan tak hendak dan tak sedang menyakitimu, tetapi tetap, rasa sakit itu nyata terasakan oleh hati dan fisikmu…
Lalu kenapa pula repot mendoakan dia jika memang tersakiti?? Bukankah akan jauh lebih sederhana jika aku fokus dengan doa yang pengabulannya tidak akan melukaiku??? Teman, berdoa untuk cintaku dan berdoa untuk cintanya, adalah pilihan yang tersedia untukku. Dan cintaku tak mampu egois. Pernahkah kau sangat ingin melihat seseorang bahagia, karena kebahagiaan dia menjadi begitu sangat penting untukmu? Mari tak menyebut ini sebagai pengorbanan, tetapi sebuah pelepasan. Pelepasan dalam kekuatan dan keyakinan.
Menyempurnakan keberserahan kepada Tuhan,
untuk dan atas semua rasa yang kini tengah menetap dalam hatiku...
bisakah???
to be continued...
Dalam salah satu penggal kisahku, aku menulis “berserah tetapi bukan menyerah!” Sungguh, tak mudah merangkum dua kata tersebut dalam proses yang berjalan paralel. Menelusuri arti "tidak menyerah dalam keberserahan" telah membawaku pada gelombang rasa yang tak ternamai. Harapan dan keyakinan yang menguat dalam bayang harap-harap cemas. Keyakinan yang mengakar tapi dalam ketidaktahuan yang mutlak. Ketidaktahuan akan kemana semua ini berujung, definately membutuhkan keberserahan yang bukan basa basi. Keberserahan yang mewujud dalam kepenuhan dan kesadaran hati terdalam…
Banyak diberitakan tentang keajaiban ikhlas. Ketika ‘berserah’ telah menjadi kekuatan yang menggerakkan semesta untuk mendekatkan kita pada cita dan harapan. Tapi kau tak menghitung pamrih dalam berserah. Berserah berarti membiarkan Tuhan bekerja dengan caraNya. Seperti sedang menghadapi pertanyaan Tuhan, apakah sungguh hidup mati kita hanya untukNya. Jika YA, maka berserahlah. Prosesmu pun dijaga oleh alarm nurani yang selalu berbisik tegas pada hatimu tentang ketulusan yang tak bisa direkayasa. Bahwa kau tidak bisa pura-pura yakin, pura-pura mencintai ataupun pura-pura ikhlas... Tuhan Maha Tahu...
Kini, di simpang berbagai pilihan sikap yang tersedia untukku, aku tetap dalam pilihan yang tegas untuk berjuang atas keyakinanku. Tapi aku tak mau angkuh di mata Tuhan. Perjuangan ini ingin selalu kutemani dengan keberserahan yang sempurna di hadapanNya. Aku sedang melatih jiwaku untuk berjuang dalam keberserahan itu. Jelas terasa, dalam salah satu sudut keberserahan, aku mendapatiku diriku tersungkur dalam rasa sakit yang perih. Aku terluka dalam doa untuk kelapangan dan kemudahan pangeranku bersama pilihan hatinya. Mudah ketika berdoa meminta apa yang memang sungguh kita harapkan. Tetapi meminta sesuatu untuk orang lain, yang dengan pengabulan doa itu, kita tahu persis akan menyakiti dan melukai kita???
Separuh dari harapanku atas dia seperti telah memotong doaku. Ada penolakan terselubung, pertarungan antara apa yang kuyakin baik untuk diriku dan apa yang mungkin baik untuk dirinya. Kuberitahu teman, rasanya sakit sekali... Kau mulai terisak dalam tangis, dadamu terasa sempit seperti sedang dihantam oleh bongkah batu besar dan keras. Kau merapuh... Dengan sadar kau melepas doa itu terbang ke langit membawa separuh kekuatanmu, separuh nafasmu, separuh jiwamu... Seperti kau membelah dirimu, merelakan bagian yang telah membuatmu menjadi utuh untuk diberikan kepada orang lain. Kau tahu dan yakin bahwa Tuhan tak hendak dan tak sedang menyakitimu, tetapi tetap, rasa sakit itu nyata terasakan oleh hati dan fisikmu…
Lalu kenapa pula repot mendoakan dia jika memang tersakiti?? Bukankah akan jauh lebih sederhana jika aku fokus dengan doa yang pengabulannya tidak akan melukaiku??? Teman, berdoa untuk cintaku dan berdoa untuk cintanya, adalah pilihan yang tersedia untukku. Dan cintaku tak mampu egois. Pernahkah kau sangat ingin melihat seseorang bahagia, karena kebahagiaan dia menjadi begitu sangat penting untukmu? Mari tak menyebut ini sebagai pengorbanan, tetapi sebuah pelepasan. Pelepasan dalam kekuatan dan keyakinan.
Menyempurnakan keberserahan kepada Tuhan,
untuk dan atas semua rasa yang kini tengah menetap dalam hatiku...
bisakah???
to be continued...
Subscribe to:
Posts (Atom)