Walau kita tak (mungkin belum) saling mengenal dalam ruang fisik, aku yakin kau merasakan ‘sesuatu’ tentang hadirnya aku dalam lingkungan pertemanan kekasihmu. Aku sudah merasakan dan meyakini itu bahkan sebelum kau menemukan fakta tentang 'kebenaran' cintaku pada kekasihmu. Berlatar belakang hubungan yang sudah berjalan bilangan tahun, kebersamaan yang telah terangkai dalam berbagai kisahnya, juga ‘keterikatan’ dan ‘keterhubungan’ emosional satu sama lain di antara kalian berdua... adalah sangat wajar ketika kepekaan dan intuisi mu mengatakan ada 'sesuatu' tentang aku.
Saat kamu khawatir dengan “kebenaran” tentang cinta dan keyakinanku pada kekasihmu, bagiku adalah reaksi yang wajar. Aku hanya berharap semoga kekhawatiran itu tidak menenggelamkanmu dalam prasangka, kebencian dan juga amarah, baik pada kekasihmu, juga padaku. Menerima hadirku sebagai suatu ancaman, sungguh hanya akan membuat hatimu lelah dan terbebani, dan rasanya akan sangat tidak nyaman untuk dirimu sendiri. Kau tidak perlu melewati semua ketidaknyamanan itu jika berkenan memilih untuk merangkul semua realitas ini dalam damai.
Sungguh tak perlu merasa khawatir ketika kau yakin bahwa kekasihmu ada bersamamu, dan kau mempercayainya!!! Kaulah yang saat ini terpilih. Percayalah, sesuatu yang memang sudah Tuhan tetapkan untukmu, tak akan pernah bisa teralihkan pada siapapun. Begitu pula jika sesuatu telah ditetapkan Tuhan bukan untukmu, maka kau pun tak kan pernah bisa mencegahnya untuk teralihkan. Siapapun tak bisa membantah dan mengingkari kenyataan, bahwa Takdir adalah misteri dan kuasa Tuhan.
Tetap jujur kukatakan, bahwa aku dalam rasa cinta yang semakin teguh untuk kekasihmu. Sekali lagi, cinta ini tak menuntut apapun atau siapapun untuk membuatnya ‘ada’. Cinta ini akan bergerak dan mengalir sesuai kodratnya, yang dalam perjalananannya, mungkin akan melukai atau membahagiakan seseorang. Seseorang itu bisa berarti siapapun. Saat ini, fakta jelas berkata bahwa dia memilihmu, bukan aku. Karenanya, jika kau benar mencintai kekasihmu, jadilah cinta yang sebenar-benarnya untuk dia, dan berbahagialah bersama cinta itu.
Di masa depan.. entah kapan itu … esok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan… akan terjawab semua teka-teki Takdir ini. Aku yakin semua ini akan menemukan ‘ujung’nya. Dan selama Tuhan belum memutuskan kehendakNya, setiap dari kita bertiga punya peluang yang sama untuk berikhtiar, memilih, dan memutuskan.
Atas nama cinta yang kita miliki,
dengan ruang istimewa yang sudah kau miliki bersama kekasihmu...
juga aku dengan harapan dan keyakinanku atas pangeranku...
mari kita berjuang dengan cara kita masing-masing.
Berjuang dengan cara yang baik, tanpa melukai arti dari kebaikan itu sendiri.
semoga kita dapat saling mengerti...
to be continued...
Wednesday, September 29, 2010
Thursday, September 23, 2010
(21) Selingkuh ???
Teman, telah mengemuka beberapa asumsi bahwa kehadiranku dianggap 'merusak' apa yang sudah terjalin antara pangeranku dan kekasihnya. Sungguh, aku merasa perlu untuk meluruskan ini, karena aku ingin menjaga nama baik pangeranku. Dia tidak pernah selingkuh, dan kami tidak berselingkuh. Pangeranku tahu dan mengerti betul bahwa aku tidak pernah memaksa dia dengan semua perasaanku padanya. Aku menghormati dia sebagaimana aku menghormati kekasihnya.
Mari kubagi sebagian fakta dengan lebih lugas…
Aku jatuh cinta dengan seorang pria yang dikenalkan padaku. Kami berkomunikasi sebagai dua orang sahabat, berbicara dan berdiskusi tentang banyak hal. Seiring keyakinan ku yang semakin menguat, aku melugaskan perasaanku padanya. Dia menerima kelugasanku dengan baik, sambil tetap memberiku garis batas bahwa aku tak lebih dari seorang sahabat baginya. Aku tetap mencintainya dengan caraku, membiarkan dia tahu bahwa aku mencintainya selama cinta ini diizinkan oleh Tuhan ada dalam hatiku. Kami saling menghormati pilihan dan batasan kami masing-masing. Teman... apakah bisa hal demikian disebut perselingkuhan???
Bagi siapapun, tentu sah-sah saja untuk memberikan penilaian apapun atas proses ini. Keyakinan yang mengakar misterius dalam hatiku, relasi-relasi unik antara aku dan pangeranku, tak mampu kujelaskan penuh pada setiap orang. Aku hanya berlaku sederhana dengan MENERIMA cinta ini. Maafkan jika aku terkesan egois, namun jika ikhtiarku dianggap menyerobot batas teritori seseorang, ketahuilah, selama komitmen belum dikukuhkan dalam IJAB KABUL, maka semua masih menjadi semesta kemungkinan, baik untukku, pangeranku, juga kekasihya.
Buatku, cinta adalah fitrah manusia yang datang dari Tuhan tanpa kau bisa mengatur tentang kapan tiba waktunya, atau kepada siapa kau hendak jatuh cinta. Cinta dalam bentuknya yang paling dasar adalah sesuatu yang murni dan asli. Sesuatu yang asli tidak memerlukan alasan, perantara ataupun pembenaran untuk menjadi ‘ada’, karena secara hakikat dia sudah benar 'ada'nya. Terima kasihku kepada seorang sahabat yang sudah berkenan berbagi ilmu dan pemahamannya denganku tentang proses mem'bening'kan doa, memisahkan mana yang asli dan mana yang palsu.
Murni dan palsu kadangkala memang sering menjadi bias dan kabur. Mungkin karena niat yang keliru, atau karena penuhnya hati dengan asesoris pemikiran yang sesungguhnya jauh dari substansi. Kebenaran kadang terlampau sederhana hingga kita terlewat untuk mengenalinya. InsyaAllah, telah kukenali cinta ini sebagai sesuatu yang murni, yang datang dari Tuhan untukku, dan aku tak ingin menyia-nyiakannya. Aku yakin, jika berkenan melihat perjalanan proses ini dengan hati yang jernih lagi bening, insyaAllah hanya akan mendapati kenyataan bahwa kita semua hanyalah manusia yang punya kuasa untuk membuat rencana, tetapi tak berkuasa untuk menjadikanya TERJADI tanpa izin dan kehendakNya.
Jika memang harus ada yang tersakiti dengan perjalanan proses ini, ntah itu aku, pangeranku, ataupun kekasihnya... maka itulah realitas yang butuh untuk kami hadapi. Aku yakin semua kejadian ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada kami. Aku hanya ingin meluruskan niat, lalu bergerak positif pada garis ikhtiar. Penting untuk berlaku 'lurus' dalam ikhtiar, karena sungguh... aku meniatkan kebaikan dunia dan akhirat atas semua perjalanan proses ini. So, tak perlu khawatir dengan caraku berproses, karena aku sama sekali tidak berniat menodai proses ini dengan cara-cara yang tidak baik, culas, atau manipulatif. Tuhan Maha Adil dengan semua niat yang tersimpan dalam hati manusia. Kebaikan hanya akan terpaut dengan kebaikan.
Pangeranku tidak berselingkuh dan aku tidak mengajaknya untuk berselingkuh.
Kami hanyalah jiwa-jiwa yang sedang diberi pilihan oleh Tuhan.
Pilihan mana yang akan disetujui olehNya?
Wallahualam bisshawab.
To be continued…
Mari kubagi sebagian fakta dengan lebih lugas…
Aku jatuh cinta dengan seorang pria yang dikenalkan padaku. Kami berkomunikasi sebagai dua orang sahabat, berbicara dan berdiskusi tentang banyak hal. Seiring keyakinan ku yang semakin menguat, aku melugaskan perasaanku padanya. Dia menerima kelugasanku dengan baik, sambil tetap memberiku garis batas bahwa aku tak lebih dari seorang sahabat baginya. Aku tetap mencintainya dengan caraku, membiarkan dia tahu bahwa aku mencintainya selama cinta ini diizinkan oleh Tuhan ada dalam hatiku. Kami saling menghormati pilihan dan batasan kami masing-masing. Teman... apakah bisa hal demikian disebut perselingkuhan???
Bagi siapapun, tentu sah-sah saja untuk memberikan penilaian apapun atas proses ini. Keyakinan yang mengakar misterius dalam hatiku, relasi-relasi unik antara aku dan pangeranku, tak mampu kujelaskan penuh pada setiap orang. Aku hanya berlaku sederhana dengan MENERIMA cinta ini. Maafkan jika aku terkesan egois, namun jika ikhtiarku dianggap menyerobot batas teritori seseorang, ketahuilah, selama komitmen belum dikukuhkan dalam IJAB KABUL, maka semua masih menjadi semesta kemungkinan, baik untukku, pangeranku, juga kekasihya.
Buatku, cinta adalah fitrah manusia yang datang dari Tuhan tanpa kau bisa mengatur tentang kapan tiba waktunya, atau kepada siapa kau hendak jatuh cinta. Cinta dalam bentuknya yang paling dasar adalah sesuatu yang murni dan asli. Sesuatu yang asli tidak memerlukan alasan, perantara ataupun pembenaran untuk menjadi ‘ada’, karena secara hakikat dia sudah benar 'ada'nya. Terima kasihku kepada seorang sahabat yang sudah berkenan berbagi ilmu dan pemahamannya denganku tentang proses mem'bening'kan doa, memisahkan mana yang asli dan mana yang palsu.
Murni dan palsu kadangkala memang sering menjadi bias dan kabur. Mungkin karena niat yang keliru, atau karena penuhnya hati dengan asesoris pemikiran yang sesungguhnya jauh dari substansi. Kebenaran kadang terlampau sederhana hingga kita terlewat untuk mengenalinya. InsyaAllah, telah kukenali cinta ini sebagai sesuatu yang murni, yang datang dari Tuhan untukku, dan aku tak ingin menyia-nyiakannya. Aku yakin, jika berkenan melihat perjalanan proses ini dengan hati yang jernih lagi bening, insyaAllah hanya akan mendapati kenyataan bahwa kita semua hanyalah manusia yang punya kuasa untuk membuat rencana, tetapi tak berkuasa untuk menjadikanya TERJADI tanpa izin dan kehendakNya.
Jika memang harus ada yang tersakiti dengan perjalanan proses ini, ntah itu aku, pangeranku, ataupun kekasihnya... maka itulah realitas yang butuh untuk kami hadapi. Aku yakin semua kejadian ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada kami. Aku hanya ingin meluruskan niat, lalu bergerak positif pada garis ikhtiar. Penting untuk berlaku 'lurus' dalam ikhtiar, karena sungguh... aku meniatkan kebaikan dunia dan akhirat atas semua perjalanan proses ini. So, tak perlu khawatir dengan caraku berproses, karena aku sama sekali tidak berniat menodai proses ini dengan cara-cara yang tidak baik, culas, atau manipulatif. Tuhan Maha Adil dengan semua niat yang tersimpan dalam hati manusia. Kebaikan hanya akan terpaut dengan kebaikan.
Pangeranku tidak berselingkuh dan aku tidak mengajaknya untuk berselingkuh.
Kami hanyalah jiwa-jiwa yang sedang diberi pilihan oleh Tuhan.
Pilihan mana yang akan disetujui olehNya?
Wallahualam bisshawab.
To be continued…
Monday, September 20, 2010
(20) DO the Love....
Ada beberapa nama istimewa yang kupasang ringtone khusus di handphoneku, salah satunya adalah nada panggil untuk nama pangeranku. Amat sangat jarang aku menerima telepon dari pangeranku, dan tengah malam itu, nada panggil istimewa itu membangunkan tidurku, membawa berita tentang aku, pangeranku, dan kekasihnya…
Malam itu adalah malam kami bertiga bertemu dalam kisah ini. Kami bertemu dalam ruang ‘rasa’ dan intuisi melalui kebenaran yang menyeruak ke permukaan. Seseorang terluka karena kebenaran itu. Dia adalah kekasih pangeranku. Sungguh aku tak berniat menyakiti siapapun. Dalam sudut pandangku, setiap sisi konsekuensi dari kebenaran ini adalah ‘ruang belajar’ untuk masing-masing dari kami. Cemburu menjadi wajar, gelisah dalam batas tertentu adalah manusiawi. Sejak awal aku yakin, pada titik waktu tertentu, semua yang terkait proses ini akan mengetahui kebenaran ini. Kebenaran tentang cinta dan keyakinanku. Dalam situasi masing-masing, aku harap kami bertiga dapat tetap saling menghormati.
Lalu, apa yang terpahami oleh hatiku tentang semua rangkaian proses ini???
So far…
Aku merasakan bahwa cinta ini berproses, bergerak, dan beranjak dari waktu ke waktu. Sejak muncul tak terduga dalam hatiku, lalu menguat dalam keyakinan hingga detik ini, cinta ini telah menunjukkan banyak keajaibannya padaku. Aku merasa tak perlu berdebat dengan situasiku yang ‘terlihat’ rumit, ataupun sibuk mempertanyakan kenapa cintaku justru tumbuh untuk seseorang yang sudah memiliki kekasih. Tuhan selalu menyimpan alasan baik untuk setiap kejadian. Cukup jalani semua ini apa adanya. Aku percaya “THERE IS NO COINCIDENCE” in this world, pun termasuk pertemuanku dengan pangeranku.
Aku memahami hidup sebagai rangkaian kesempatan dan pilihan yang disediakan oleh Tuhan. Setiap pilihan membawa serta semua konsekuensinya. Aku telah memilih cinta ini, menetapkan tujuanku, dan berjalan pada garis ikhtiar untuk mewujudkannya. Pada ruang yang berbeda, sejauh yang bisa kupahami dari komunikasi verbalnya padaku, pangeranku pun sudah memilih. Kami sudah memilih jalan masing-masing. Kemana masing-masing pilihan ini akan berujung, tak ada satupun dari kami yang mengetahui. Satu hal yang jelas bagi hatiku, nama pangeran semakin tegap dalam doa-doaku.
Teman, keyakinan ini bergerak misterius dalam hatiku. Jejaknya gaib, tetapi YAKIN itu nyata ada dalam hatiku, tegap dan kokoh. Dari jauh, menembus ratus kilometer, jelas suara pangeranku menghantarkan kalimat “aku tidak akan menghubungimu lagi, aku mencintai pacarku dan tidak mau kehilangan dia”. Aku tidak tahu kenapa, kata-kata itu justru semakin menebalkan keyakinanku atas proses ini. Aku tahu aku akan menangis rapuh jika benar dia terlepas dari sisiku. Tapi semua risiko sebanding dengan berharganya keyakinan ini untuk di perjuangkan. Lillahi Ta’Ala… kuniatkan semua bentuk ikhtiar sebagai bukti dihadapan Tuhan bahwa aku bersungguh-sungguh dengan semua yang kuniatkan atas perasaan dan keyakinan ini.
Kepada Tuhan aku berbicara tentang semuanya, cintaku, harapan dan keyakinanku, juga ketidaktahuan dan ketidakberdayaanku atas kuasaNya. Kepada orangtua aku bebaskan hati mereka untuk jernih melihat proses ini dan menemaniku sesuai arah keyakinan mereka. Alhamdulillah, aku mendapati mereka ada bersamaku dalam doa. Mereka merestui cintaku. Juga sahabat dan teman-teman yang turut berbagi kebeningan dalam doa atas nama cinta yang kurasakan untuk pangeranku. Aku melihat dan merasakan ketulusan yang sebenar-benarnya, seiring harapan mereka semoga Tuhan memberikan yang terbaik untukku dan pangeranku.
Kulepaskan pangeranku untuk berproses dengan keyakinannya, membiarkan dia mengolah semuanya dalam ruang batin yang jernih. Tidak satupun dari kami bertiga yang mampu melawan kuasa Tuhan. Dalam semua harapan dan mimpi kami, aku, pangeranku, dan kekasihnya… kami mutlak dibatasi oleh kehendak Tuhan. Aku telah memilih cintaku, mengikhtiarkannya, lalu menyerahkannya kepada Tuhan…
Mengutip perkataan seorang sahabat
“DO the Love and may LOVE will love you”
semoga DIA selalu mencintaiku…
to be continued….
Malam itu adalah malam kami bertiga bertemu dalam kisah ini. Kami bertemu dalam ruang ‘rasa’ dan intuisi melalui kebenaran yang menyeruak ke permukaan. Seseorang terluka karena kebenaran itu. Dia adalah kekasih pangeranku. Sungguh aku tak berniat menyakiti siapapun. Dalam sudut pandangku, setiap sisi konsekuensi dari kebenaran ini adalah ‘ruang belajar’ untuk masing-masing dari kami. Cemburu menjadi wajar, gelisah dalam batas tertentu adalah manusiawi. Sejak awal aku yakin, pada titik waktu tertentu, semua yang terkait proses ini akan mengetahui kebenaran ini. Kebenaran tentang cinta dan keyakinanku. Dalam situasi masing-masing, aku harap kami bertiga dapat tetap saling menghormati.
Lalu, apa yang terpahami oleh hatiku tentang semua rangkaian proses ini???
So far…
Aku merasakan bahwa cinta ini berproses, bergerak, dan beranjak dari waktu ke waktu. Sejak muncul tak terduga dalam hatiku, lalu menguat dalam keyakinan hingga detik ini, cinta ini telah menunjukkan banyak keajaibannya padaku. Aku merasa tak perlu berdebat dengan situasiku yang ‘terlihat’ rumit, ataupun sibuk mempertanyakan kenapa cintaku justru tumbuh untuk seseorang yang sudah memiliki kekasih. Tuhan selalu menyimpan alasan baik untuk setiap kejadian. Cukup jalani semua ini apa adanya. Aku percaya “THERE IS NO COINCIDENCE” in this world, pun termasuk pertemuanku dengan pangeranku.
Aku memahami hidup sebagai rangkaian kesempatan dan pilihan yang disediakan oleh Tuhan. Setiap pilihan membawa serta semua konsekuensinya. Aku telah memilih cinta ini, menetapkan tujuanku, dan berjalan pada garis ikhtiar untuk mewujudkannya. Pada ruang yang berbeda, sejauh yang bisa kupahami dari komunikasi verbalnya padaku, pangeranku pun sudah memilih. Kami sudah memilih jalan masing-masing. Kemana masing-masing pilihan ini akan berujung, tak ada satupun dari kami yang mengetahui. Satu hal yang jelas bagi hatiku, nama pangeran semakin tegap dalam doa-doaku.
Teman, keyakinan ini bergerak misterius dalam hatiku. Jejaknya gaib, tetapi YAKIN itu nyata ada dalam hatiku, tegap dan kokoh. Dari jauh, menembus ratus kilometer, jelas suara pangeranku menghantarkan kalimat “aku tidak akan menghubungimu lagi, aku mencintai pacarku dan tidak mau kehilangan dia”. Aku tidak tahu kenapa, kata-kata itu justru semakin menebalkan keyakinanku atas proses ini. Aku tahu aku akan menangis rapuh jika benar dia terlepas dari sisiku. Tapi semua risiko sebanding dengan berharganya keyakinan ini untuk di perjuangkan. Lillahi Ta’Ala… kuniatkan semua bentuk ikhtiar sebagai bukti dihadapan Tuhan bahwa aku bersungguh-sungguh dengan semua yang kuniatkan atas perasaan dan keyakinan ini.
Kepada Tuhan aku berbicara tentang semuanya, cintaku, harapan dan keyakinanku, juga ketidaktahuan dan ketidakberdayaanku atas kuasaNya. Kepada orangtua aku bebaskan hati mereka untuk jernih melihat proses ini dan menemaniku sesuai arah keyakinan mereka. Alhamdulillah, aku mendapati mereka ada bersamaku dalam doa. Mereka merestui cintaku. Juga sahabat dan teman-teman yang turut berbagi kebeningan dalam doa atas nama cinta yang kurasakan untuk pangeranku. Aku melihat dan merasakan ketulusan yang sebenar-benarnya, seiring harapan mereka semoga Tuhan memberikan yang terbaik untukku dan pangeranku.
Kulepaskan pangeranku untuk berproses dengan keyakinannya, membiarkan dia mengolah semuanya dalam ruang batin yang jernih. Tidak satupun dari kami bertiga yang mampu melawan kuasa Tuhan. Dalam semua harapan dan mimpi kami, aku, pangeranku, dan kekasihnya… kami mutlak dibatasi oleh kehendak Tuhan. Aku telah memilih cintaku, mengikhtiarkannya, lalu menyerahkannya kepada Tuhan…
Mengutip perkataan seorang sahabat
“DO the Love and may LOVE will love you”
semoga DIA selalu mencintaiku…
to be continued….
Thursday, August 12, 2010
(19) Mendalami keberserahan
Apa yang bisa kau lakukan teman? Ketika rasa dan keyakinanmu tak bergeming, tetapi realitas menampakkan wajah yang apa adanya. Kau menoleh ke belakang, meneliti setiap jejak do’a dan proses yang telah dilalui, kekuatan untuk tidak menyerah dan teguh pada keyakinan bahwa ‘akan tiba waktunya’ untukmu. Kemudian waktu terus membawa langkahmu, sampai saat kamu 'bertemu' dan tanpa ragu bisa mengatakan “inilah yang kucari dan kubutuhkan”. Tapi tetap, Tuhan masih menghamparkan kisahmu seperti puzzle yang belum tersusun….
Dalam salah satu penggal kisahku, aku menulis “berserah tetapi bukan menyerah!” Sungguh, tak mudah merangkum dua kata tersebut dalam proses yang berjalan paralel. Menelusuri arti "tidak menyerah dalam keberserahan" telah membawaku pada gelombang rasa yang tak ternamai. Harapan dan keyakinan yang menguat dalam bayang harap-harap cemas. Keyakinan yang mengakar tapi dalam ketidaktahuan yang mutlak. Ketidaktahuan akan kemana semua ini berujung, definately membutuhkan keberserahan yang bukan basa basi. Keberserahan yang mewujud dalam kepenuhan dan kesadaran hati terdalam…
Banyak diberitakan tentang keajaiban ikhlas. Ketika ‘berserah’ telah menjadi kekuatan yang menggerakkan semesta untuk mendekatkan kita pada cita dan harapan. Tapi kau tak menghitung pamrih dalam berserah. Berserah berarti membiarkan Tuhan bekerja dengan caraNya. Seperti sedang menghadapi pertanyaan Tuhan, apakah sungguh hidup mati kita hanya untukNya. Jika YA, maka berserahlah. Prosesmu pun dijaga oleh alarm nurani yang selalu berbisik tegas pada hatimu tentang ketulusan yang tak bisa direkayasa. Bahwa kau tidak bisa pura-pura yakin, pura-pura mencintai ataupun pura-pura ikhlas... Tuhan Maha Tahu...
Kini, di simpang berbagai pilihan sikap yang tersedia untukku, aku tetap dalam pilihan yang tegas untuk berjuang atas keyakinanku. Tapi aku tak mau angkuh di mata Tuhan. Perjuangan ini ingin selalu kutemani dengan keberserahan yang sempurna di hadapanNya. Aku sedang melatih jiwaku untuk berjuang dalam keberserahan itu. Jelas terasa, dalam salah satu sudut keberserahan, aku mendapatiku diriku tersungkur dalam rasa sakit yang perih. Aku terluka dalam doa untuk kelapangan dan kemudahan pangeranku bersama pilihan hatinya. Mudah ketika berdoa meminta apa yang memang sungguh kita harapkan. Tetapi meminta sesuatu untuk orang lain, yang dengan pengabulan doa itu, kita tahu persis akan menyakiti dan melukai kita???
Separuh dari harapanku atas dia seperti telah memotong doaku. Ada penolakan terselubung, pertarungan antara apa yang kuyakin baik untuk diriku dan apa yang mungkin baik untuk dirinya. Kuberitahu teman, rasanya sakit sekali... Kau mulai terisak dalam tangis, dadamu terasa sempit seperti sedang dihantam oleh bongkah batu besar dan keras. Kau merapuh... Dengan sadar kau melepas doa itu terbang ke langit membawa separuh kekuatanmu, separuh nafasmu, separuh jiwamu... Seperti kau membelah dirimu, merelakan bagian yang telah membuatmu menjadi utuh untuk diberikan kepada orang lain. Kau tahu dan yakin bahwa Tuhan tak hendak dan tak sedang menyakitimu, tetapi tetap, rasa sakit itu nyata terasakan oleh hati dan fisikmu…
Lalu kenapa pula repot mendoakan dia jika memang tersakiti?? Bukankah akan jauh lebih sederhana jika aku fokus dengan doa yang pengabulannya tidak akan melukaiku??? Teman, berdoa untuk cintaku dan berdoa untuk cintanya, adalah pilihan yang tersedia untukku. Dan cintaku tak mampu egois. Pernahkah kau sangat ingin melihat seseorang bahagia, karena kebahagiaan dia menjadi begitu sangat penting untukmu? Mari tak menyebut ini sebagai pengorbanan, tetapi sebuah pelepasan. Pelepasan dalam kekuatan dan keyakinan.
Menyempurnakan keberserahan kepada Tuhan,
untuk dan atas semua rasa yang kini tengah menetap dalam hatiku...
bisakah???
to be continued...
Dalam salah satu penggal kisahku, aku menulis “berserah tetapi bukan menyerah!” Sungguh, tak mudah merangkum dua kata tersebut dalam proses yang berjalan paralel. Menelusuri arti "tidak menyerah dalam keberserahan" telah membawaku pada gelombang rasa yang tak ternamai. Harapan dan keyakinan yang menguat dalam bayang harap-harap cemas. Keyakinan yang mengakar tapi dalam ketidaktahuan yang mutlak. Ketidaktahuan akan kemana semua ini berujung, definately membutuhkan keberserahan yang bukan basa basi. Keberserahan yang mewujud dalam kepenuhan dan kesadaran hati terdalam…
Banyak diberitakan tentang keajaiban ikhlas. Ketika ‘berserah’ telah menjadi kekuatan yang menggerakkan semesta untuk mendekatkan kita pada cita dan harapan. Tapi kau tak menghitung pamrih dalam berserah. Berserah berarti membiarkan Tuhan bekerja dengan caraNya. Seperti sedang menghadapi pertanyaan Tuhan, apakah sungguh hidup mati kita hanya untukNya. Jika YA, maka berserahlah. Prosesmu pun dijaga oleh alarm nurani yang selalu berbisik tegas pada hatimu tentang ketulusan yang tak bisa direkayasa. Bahwa kau tidak bisa pura-pura yakin, pura-pura mencintai ataupun pura-pura ikhlas... Tuhan Maha Tahu...
Kini, di simpang berbagai pilihan sikap yang tersedia untukku, aku tetap dalam pilihan yang tegas untuk berjuang atas keyakinanku. Tapi aku tak mau angkuh di mata Tuhan. Perjuangan ini ingin selalu kutemani dengan keberserahan yang sempurna di hadapanNya. Aku sedang melatih jiwaku untuk berjuang dalam keberserahan itu. Jelas terasa, dalam salah satu sudut keberserahan, aku mendapatiku diriku tersungkur dalam rasa sakit yang perih. Aku terluka dalam doa untuk kelapangan dan kemudahan pangeranku bersama pilihan hatinya. Mudah ketika berdoa meminta apa yang memang sungguh kita harapkan. Tetapi meminta sesuatu untuk orang lain, yang dengan pengabulan doa itu, kita tahu persis akan menyakiti dan melukai kita???
Separuh dari harapanku atas dia seperti telah memotong doaku. Ada penolakan terselubung, pertarungan antara apa yang kuyakin baik untuk diriku dan apa yang mungkin baik untuk dirinya. Kuberitahu teman, rasanya sakit sekali... Kau mulai terisak dalam tangis, dadamu terasa sempit seperti sedang dihantam oleh bongkah batu besar dan keras. Kau merapuh... Dengan sadar kau melepas doa itu terbang ke langit membawa separuh kekuatanmu, separuh nafasmu, separuh jiwamu... Seperti kau membelah dirimu, merelakan bagian yang telah membuatmu menjadi utuh untuk diberikan kepada orang lain. Kau tahu dan yakin bahwa Tuhan tak hendak dan tak sedang menyakitimu, tetapi tetap, rasa sakit itu nyata terasakan oleh hati dan fisikmu…
Lalu kenapa pula repot mendoakan dia jika memang tersakiti?? Bukankah akan jauh lebih sederhana jika aku fokus dengan doa yang pengabulannya tidak akan melukaiku??? Teman, berdoa untuk cintaku dan berdoa untuk cintanya, adalah pilihan yang tersedia untukku. Dan cintaku tak mampu egois. Pernahkah kau sangat ingin melihat seseorang bahagia, karena kebahagiaan dia menjadi begitu sangat penting untukmu? Mari tak menyebut ini sebagai pengorbanan, tetapi sebuah pelepasan. Pelepasan dalam kekuatan dan keyakinan.
Menyempurnakan keberserahan kepada Tuhan,
untuk dan atas semua rasa yang kini tengah menetap dalam hatiku...
bisakah???
to be continued...
Wednesday, August 11, 2010
Ramadhan (tetap) dicintai…
Tarawih pertama aku memilih untuk melaksanakannya di masjid dekat rumahku. Seperti sebelum-sebelumnya, hari pertama tarawih, masjid penuh sesak dengan jemaah. Baik di tempat laki-laki juga perempuan, shaf terlihat penuh. Panitia bahkan menggelar shaf tambahan di samping masjid (yang biasanya jadi jalan umum). Untuk shaf tambahan bagi jamaah perempuan di atur di belakang, berdampingan sesak dengan jamaah jamaah laki-laki pada sisi yang lain. Aku sendiri hampir tidak kebagian tempat, namun akhirnya berhasil ‘nyelip’ di shaf nomor dua dari depan. Alhamdulillah…
Pada bulan Ramadhan, aspek-aspek spiritual memang menjadi semakin kental ‘tampak’. Jargon-jargon tentang keistimewaan Ramadhan menjadi semakin sering terdengar. Betapa Ramadhan adalah bulan dimana Tuhan memberikan banyak ‘bonus’ pahala dan kemudahan-kemudahan. Saat Ramadhan dianggap saat yang paling tepat untuk setiap orang berbenah dan menata hati. Para kyai menjadi lebih sering tampil di televisi berbicara tentang keutamaan Ramadhan. Para pemimpin bangsa terlihat sangat agamis dengan ajakan untuk berlaku baik dan menghormati bulan suci Ramadhan.
Bagiku pribadi, Ramadhan ini kuniatkan untuk menjadi lebih ‘sunyi’ dan ‘hening’. Bersama teman kami berniat untuk safari dari masjid ke masjid, dengan selingan iktikaf pada weekend. Semoga menjadi rencana yang terwujud dan bermanfaat bagi kami. Aku benar2 berharap tidak terjadi lagi aku mendengarkan azan magrib di angkutan umum karena macet. Sedih sekali… But, this is life, sebelum aku mampu untuk mengatur waktu kerjaku sendiri, my own time, my own company…just follow the rule…:).
Marhaban Ya Ramadhan…
Semoga semangat Ramadhan tidak berhenti ketika Syawal tiba.
Semoga bukan hanya sekadar menjadi ‘jeda spriritual’
untuk kemudian menjadi mundur setelah Ramadhan usai.
Semoga selalu merasa seperti setiap bulan adalah Ramadhan.
Alhamdulillah…segala puji hanya bagi Allah…
Terlepas apakah masih sebatas euphoria semata…
Melihat masjid penuh sesak saat tarawih pertama semalam,
Ketika masih terselip keengganan dan rasa malu dalam hati untuk berbuat maksiat,
Ketika kesadaran untuk mensucikan hati terasa lebih menyala,
Ketika acara televisi jadi lebih santun bagi masyarakat,
Ketika tadabur dan tadarus Qur’an menjadi lebih menggila,
ada rasa bahagia dan haru di dada…
Semangat menyambut Ramadhan seperti itu menjadi sesuatu yang perlu disyukuri.
InsyaAllah, Ramadhan (tetap) dicintai dan dirindukan…
Pada bulan Ramadhan, aspek-aspek spiritual memang menjadi semakin kental ‘tampak’. Jargon-jargon tentang keistimewaan Ramadhan menjadi semakin sering terdengar. Betapa Ramadhan adalah bulan dimana Tuhan memberikan banyak ‘bonus’ pahala dan kemudahan-kemudahan. Saat Ramadhan dianggap saat yang paling tepat untuk setiap orang berbenah dan menata hati. Para kyai menjadi lebih sering tampil di televisi berbicara tentang keutamaan Ramadhan. Para pemimpin bangsa terlihat sangat agamis dengan ajakan untuk berlaku baik dan menghormati bulan suci Ramadhan.
Bagiku pribadi, Ramadhan ini kuniatkan untuk menjadi lebih ‘sunyi’ dan ‘hening’. Bersama teman kami berniat untuk safari dari masjid ke masjid, dengan selingan iktikaf pada weekend. Semoga menjadi rencana yang terwujud dan bermanfaat bagi kami. Aku benar2 berharap tidak terjadi lagi aku mendengarkan azan magrib di angkutan umum karena macet. Sedih sekali… But, this is life, sebelum aku mampu untuk mengatur waktu kerjaku sendiri, my own time, my own company…just follow the rule…:).
Marhaban Ya Ramadhan…
Semoga semangat Ramadhan tidak berhenti ketika Syawal tiba.
Semoga bukan hanya sekadar menjadi ‘jeda spriritual’
untuk kemudian menjadi mundur setelah Ramadhan usai.
Semoga selalu merasa seperti setiap bulan adalah Ramadhan.
Alhamdulillah…segala puji hanya bagi Allah…
Terlepas apakah masih sebatas euphoria semata…
Melihat masjid penuh sesak saat tarawih pertama semalam,
Ketika masih terselip keengganan dan rasa malu dalam hati untuk berbuat maksiat,
Ketika kesadaran untuk mensucikan hati terasa lebih menyala,
Ketika acara televisi jadi lebih santun bagi masyarakat,
Ketika tadabur dan tadarus Qur’an menjadi lebih menggila,
ada rasa bahagia dan haru di dada…
Semangat menyambut Ramadhan seperti itu menjadi sesuatu yang perlu disyukuri.
InsyaAllah, Ramadhan (tetap) dicintai dan dirindukan…
Thursday, August 5, 2010
(18) Love, hope, destiny…
Let me ask u my friends “have you in love?”. Katakan padaku bagaimana rasanya teman? Kuyakin kau tak punya cukup kata untuk bisa menggambarkan utuh apa yang dirasa. Kata tak kan pernah bisa utuh menceritakan ‘rasa’. Di tengah keterbatasan kosa kata, kita pun akrab menamai rasa yang tak bisa dijelaskan itu dengan “cinta”. Cinta yang seringkali muncul pada waktu tak terduga, dengan cara yang tak terpahami, menabrak logika, hanya mampu dirasakan, tak ternamai…
Kepada diriku sendiri sering kukatakan “everything has it own process”. Pemahaman yang membuatku tetap optimis tentang masa depan. It’s not easy for me to fall in love, and now, Tuhan mengizinkan aku jatuh cinta dengan ‘situasi tertentu’. Never expected, cintaku justru berlabuh pada seseorang yang sudah melabuhkan hatinya pada orang lain. Yes my friend, I fall in love with someone’s lover. Posisiku jelas tidak menguntungkan. Risiko patah hati seperti sedang tersenyum simpul menungguku di akhir kisah ini. Senyum yang seakan berkata padaku, “just step back and left behind all of this feeling…”.
Well…I’am not step back!!!
Pangeranku…jika suatu saat kau membaca tulisanku ini, please, kumohon kamu tidak dalam prasangka bahwa aku tak menghormati substansi pembicaraan terakhir kita tentang ‘rasa ini’. Aku ingat mengatakan padamu akan menghormati keputusanmu. Aku masih dalam posisi hati menghormati pilihanmu, I do still in that commitment!. Just like I told u before, melihatmu bahagia, itu penting untuk hatiku, walau itu berarti mungkin aku akan berhadapan dengan kenyataan bahwa bahagiamu bukan bersamaku. Decision to stay forward bukan karena aku memaksamu atau mendikte Tuhan dengan doa-doaku. I just want to continue my life without leaving a question “what if I try???”. Coz, tugasku adalah untuk mencoba, bukan untuk berhasil!.
Bahwa jawabmu yang mengatakan akan tetap dalam komitmen sebagai sahabat denganku, memang memberi batas pada gerak ikhtiar horizontalku. But forsure, tak ada yang bergeming dengan gerak ikhtiar vertikalku. Kamu dan aku belum terikat pernikahan. Memintamu kepada Tuhan, bukan sesuatu yang diharamkan. Kamu sudah membuat keputusan, aku pun demikian. Sekarang, biarkan Tuhan yang memutuskan semuanya. Tidak ada yang lebih memahami kita selain DIA.
Kamu bilang padaku akan berdoa kepada Tuhan agar mengirimkan kepadaku pangeran yang jauh lebih baik darimu. Bagiku, doamu bisa jadi akan mendekatkan seseorang kepadaku, atau justru akan mendekatkan kamu kepadaku. Coz, bisa jadi kamulah pangeran yang Tuhan maksudkan untuk hatiku. Sederhana bagi hatiku, jika kamu ingin mendapatiku sebagai seorang sahabat, maka aku akan tetap ada disisimu sebagai salah satu sahabat terbaikmu. But if u have a different feeling for me, ketahuilah, bahwa sampai detik ini aku masih di tempat yang sama ketika mengatakan “I fall in love with you…” .
PadaMu Tuhan…
Please take this feeling over to YOU …
I accept this situation, and hand it over to YOU…
Kecuali atas izinMu, tak ada yang bisa membatalkan rasa cinta ini…
To be continued...
Kepada diriku sendiri sering kukatakan “everything has it own process”. Pemahaman yang membuatku tetap optimis tentang masa depan. It’s not easy for me to fall in love, and now, Tuhan mengizinkan aku jatuh cinta dengan ‘situasi tertentu’. Never expected, cintaku justru berlabuh pada seseorang yang sudah melabuhkan hatinya pada orang lain. Yes my friend, I fall in love with someone’s lover. Posisiku jelas tidak menguntungkan. Risiko patah hati seperti sedang tersenyum simpul menungguku di akhir kisah ini. Senyum yang seakan berkata padaku, “just step back and left behind all of this feeling…”.
Well…I’am not step back!!!
Pangeranku…jika suatu saat kau membaca tulisanku ini, please, kumohon kamu tidak dalam prasangka bahwa aku tak menghormati substansi pembicaraan terakhir kita tentang ‘rasa ini’. Aku ingat mengatakan padamu akan menghormati keputusanmu. Aku masih dalam posisi hati menghormati pilihanmu, I do still in that commitment!. Just like I told u before, melihatmu bahagia, itu penting untuk hatiku, walau itu berarti mungkin aku akan berhadapan dengan kenyataan bahwa bahagiamu bukan bersamaku. Decision to stay forward bukan karena aku memaksamu atau mendikte Tuhan dengan doa-doaku. I just want to continue my life without leaving a question “what if I try???”. Coz, tugasku adalah untuk mencoba, bukan untuk berhasil!.
Bahwa jawabmu yang mengatakan akan tetap dalam komitmen sebagai sahabat denganku, memang memberi batas pada gerak ikhtiar horizontalku. But forsure, tak ada yang bergeming dengan gerak ikhtiar vertikalku. Kamu dan aku belum terikat pernikahan. Memintamu kepada Tuhan, bukan sesuatu yang diharamkan. Kamu sudah membuat keputusan, aku pun demikian. Sekarang, biarkan Tuhan yang memutuskan semuanya. Tidak ada yang lebih memahami kita selain DIA.
Kamu bilang padaku akan berdoa kepada Tuhan agar mengirimkan kepadaku pangeran yang jauh lebih baik darimu. Bagiku, doamu bisa jadi akan mendekatkan seseorang kepadaku, atau justru akan mendekatkan kamu kepadaku. Coz, bisa jadi kamulah pangeran yang Tuhan maksudkan untuk hatiku. Sederhana bagi hatiku, jika kamu ingin mendapatiku sebagai seorang sahabat, maka aku akan tetap ada disisimu sebagai salah satu sahabat terbaikmu. But if u have a different feeling for me, ketahuilah, bahwa sampai detik ini aku masih di tempat yang sama ketika mengatakan “I fall in love with you…” .
PadaMu Tuhan…
Please take this feeling over to YOU …
I accept this situation, and hand it over to YOU…
Kecuali atas izinMu, tak ada yang bisa membatalkan rasa cinta ini…
To be continued...
Thursday, July 22, 2010
Lepas....
Jum’at, 16 Juli 2010…menjadi hari besejarah untuk saudara terkasihku. Simpul yang sudah terikat selama kurun waktu mendekati satu dasawarsa, sedang menapak ke ujung keputusan: saling melepaskan. Dari kabar yang dibagi denganku, “kata pamit’ mengalir dalam jujur. Isak tangis tak terhindarkan. Berat tuk melepaskan, tapi terlalu amat sedikit titik temu untuk tetap saling mengikat. Lepas…
Menyeruak dalam ingatan, kurang lebih 9 tahun yang lampau, janji setia saling mengikat diucap sadar, diiringi doa, senyum, dan tawa bahagia. Tersimpan jelas dalam ingatanku, bagaimana hatiku bergetar sesaat setelah kata ‘sah’ diucapkan oleh saksi, diikuti seruan barakallah dari sanak keluarga dan teman terdekat. Babak baru telah dimulai. Ikatan telah dikukuhkan di hadapan Tuhan. Pelupuk mataku hangat oleh air mata yang menetes halus. Turut berbahagia, Ada khawatir terselip…sesuatu yang tak ingin kupupuk dengan prasangka hati, serahkan pada Tuhan, semoga ‘ikatan’ kekal dunia akhirat…
Waktu berlalu, bawa cerita, warnai ‘ikatan’ dengan ragam kisah dalam ‘rasa’
Bahagia, pahit, manis, getir, harapan, kekecewaan…
Satu persatu…silih berganti…
Aku memang berada di luar ‘ikatan’ itu. Tapi pada beberapa peristiwa penting dalam perjalanan ‘ikatan’ mereka, aku ada disana. Ketika tangis pecah, kesabaran diuji, harapan diusung, kekuatan dibangun, retak disambung, hati dikuatkan, kepercayaan dijaga, dst..dst..dst…. Dia mengizinkan aku untuk ada bersamanya pada saat-saat yang sulit, menjadi pendengar untuk kesah, berbagi kata untuk saling menguatkan, berbagi ketenangan untuk senyum optimis yang ingin tetap mengembang… Dalam berbagi dan terbaginya kisah denganku, aku belajar banyak hal…
Atas nama cinta mereka mengikatkan diri satu sama lain, dan atas dasar cinta pula mereka memutuskan untuk melepaskan ‘ikatan’. Sedih tak terhindarkan, tapi lega, kuyakin menyelimuti jiwa saudara terkasihku. Aku yakin, jatuh bangun ‘rasa’ ini telah sampai pada titiknya yang teduh dan jernih, InsyaAllah. Pada saudara terkasih, aku merasakan keringanan dalam nada suaranya, optimis pada pilihan katanya, tenang dalam langkahnya, dan senyum dalam kelepasan. Dia berhasil melewati proses ini!!! Terima kasih Tuhan…
Palu hukum memang belum diketuk, tapi hati telah memutuskan. Sesaat setelah kabar kuterima dari seberang lautan, melalui sms kukirim pesan singkat padanya “I Love u sista…”, yang dia jawab singkat pula dengan “Love u to sis..”. Tuhan, betapa aku mencintai saudaraku ini. Mohon padaMu Ya Tuhan…gantilah…gantilah apa yang sudah terlepas dari sisinya, dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Pengalaman ini kuyakin telah ‘mengisi’ jiwanya, membawanya pada nilai-nilai kebajikan, ketangguhan, dan keberserahan terhadap kehendakMu.
Cinta yang pernah hadir dan masih hadir di antara mereka masih menyala…
tapi nyala itu ternyata tak cukup kuat untuk terangi tapak-tapak jalan masa depan
“pijakan’ yang berbeda menjadikan masing-masing punya ‘pagar’ yang berbeda
titik yang bersimpangan, sulit bertemu, hingga akhirnya memutuskan,
yang terbaik untuk semua, adalah saling melepaskan…
Lepas…
Kedai Wungu, 21 Juli 2010
Untuk Saudara Terkasihku,
Semoga Tuhan selalu memelukmu dalam kasih sayangNya.
Love u always…
Menyeruak dalam ingatan, kurang lebih 9 tahun yang lampau, janji setia saling mengikat diucap sadar, diiringi doa, senyum, dan tawa bahagia. Tersimpan jelas dalam ingatanku, bagaimana hatiku bergetar sesaat setelah kata ‘sah’ diucapkan oleh saksi, diikuti seruan barakallah dari sanak keluarga dan teman terdekat. Babak baru telah dimulai. Ikatan telah dikukuhkan di hadapan Tuhan. Pelupuk mataku hangat oleh air mata yang menetes halus. Turut berbahagia, Ada khawatir terselip…sesuatu yang tak ingin kupupuk dengan prasangka hati, serahkan pada Tuhan, semoga ‘ikatan’ kekal dunia akhirat…
Waktu berlalu, bawa cerita, warnai ‘ikatan’ dengan ragam kisah dalam ‘rasa’
Bahagia, pahit, manis, getir, harapan, kekecewaan…
Satu persatu…silih berganti…
Aku memang berada di luar ‘ikatan’ itu. Tapi pada beberapa peristiwa penting dalam perjalanan ‘ikatan’ mereka, aku ada disana. Ketika tangis pecah, kesabaran diuji, harapan diusung, kekuatan dibangun, retak disambung, hati dikuatkan, kepercayaan dijaga, dst..dst..dst…. Dia mengizinkan aku untuk ada bersamanya pada saat-saat yang sulit, menjadi pendengar untuk kesah, berbagi kata untuk saling menguatkan, berbagi ketenangan untuk senyum optimis yang ingin tetap mengembang… Dalam berbagi dan terbaginya kisah denganku, aku belajar banyak hal…
Atas nama cinta mereka mengikatkan diri satu sama lain, dan atas dasar cinta pula mereka memutuskan untuk melepaskan ‘ikatan’. Sedih tak terhindarkan, tapi lega, kuyakin menyelimuti jiwa saudara terkasihku. Aku yakin, jatuh bangun ‘rasa’ ini telah sampai pada titiknya yang teduh dan jernih, InsyaAllah. Pada saudara terkasih, aku merasakan keringanan dalam nada suaranya, optimis pada pilihan katanya, tenang dalam langkahnya, dan senyum dalam kelepasan. Dia berhasil melewati proses ini!!! Terima kasih Tuhan…
Palu hukum memang belum diketuk, tapi hati telah memutuskan. Sesaat setelah kabar kuterima dari seberang lautan, melalui sms kukirim pesan singkat padanya “I Love u sista…”, yang dia jawab singkat pula dengan “Love u to sis..”. Tuhan, betapa aku mencintai saudaraku ini. Mohon padaMu Ya Tuhan…gantilah…gantilah apa yang sudah terlepas dari sisinya, dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Pengalaman ini kuyakin telah ‘mengisi’ jiwanya, membawanya pada nilai-nilai kebajikan, ketangguhan, dan keberserahan terhadap kehendakMu.
Cinta yang pernah hadir dan masih hadir di antara mereka masih menyala…
tapi nyala itu ternyata tak cukup kuat untuk terangi tapak-tapak jalan masa depan
“pijakan’ yang berbeda menjadikan masing-masing punya ‘pagar’ yang berbeda
titik yang bersimpangan, sulit bertemu, hingga akhirnya memutuskan,
yang terbaik untuk semua, adalah saling melepaskan…
Lepas…
Kedai Wungu, 21 Juli 2010
Untuk Saudara Terkasihku,
Semoga Tuhan selalu memelukmu dalam kasih sayangNya.
Love u always…
Subscribe to:
Posts (Atom)