Monday, January 3, 2011

(28) Me, flying...

Cintaku..dan cara aku mencintai bagi sebagian orang mulai dianggap sebagai satu kebodohan. Mulai muncul pertanyaan apakah 'dia' layak untuk mendapatkan segenap rasa, keyakinan, dan perjuanganku. Mulai mengemuka pula anggapan dan pendapat yang sarkas tentang 'dia'. Ahhh..buatku, jika niat menyalahkan, selalu akan muncul 1001 alasan untuk menyalahkan. Aku lebih suka mencari 1001 alasan untuk bersyukur...

Aku 'terbang' bukan untuk memuaskan anggapan sebagian teman-teman yang ingin aku segera 'beranjak' dari daerah dimana menurut mereka aku telah disia-siakan. Hmmm..jadi terharu... Tetapi apapun itu, bagiku tak ada yang sia-sia.

Aku 'terbang' karena aku ingin semua rangkaian proses ada dalam keseimbangan.
Keseimbangan ini penting jika kita berbicara tentang keselarasan jangka panjang.
and everything it's still wonderful for me...

Happy new year to you all.
Good bless us.

to be continued...
Ketik Full Post disini

Tuesday, December 21, 2010

My struggle one...

Oktober tahun lalu, telpon pada satu pagi membuat hati ku kecut. Suara papa terdengar tegas dan singkat “segera pulang ke Belitung!. Kita tidak jadi bertemu di Bangka, mama kurang sehat”. Hatiku berdesir. Ini bukan instruksi biasa. Jika mengacu pada rencana, besok mama papa akan berangkat ke Bangka, dan aku menyusul satu hari kemudian langsung dari Bandung. Kami akan bertemu di acara silaturahim keluarga pelepasan saudara terkasih menuju tanah suci. Moment yang kutunggu-tunggu karena akan bertemu sanak keluarga.

Pagi itu, suara papa di seberang menyiratkan ‘sesuatu’ terjadi. Aku tak bisa menahan kegelisahan, dan ingin semuanya lebih jelas bagiku. Aku menelpon balik, minta tolong disambungkan kepada mama. Jeda sesaat, terdengar suara di seberang…… dan air mataku tumpah seketika. Papa mengambil alih telpon, menegaskan singkat ‘mama kena stroke, stroke ringan’. Oke..semua jelas. Aku dan kakakku diam sesaat, mengolah semua informasi yang mengejutkan ini, dan memutuskan segera pulang. Kuhubungi teman untuk mengurus tiket, kami langsung bersiap.

Setelah menempuh perjalanan Bandung-Jakarta, Jakarta-Belitung, sekitar pukul 4 sore kami tiba di rumah. Beberapa kerabat dan teman dekat keluarga tampak di teras ketika kami tiba. Semua seperti sedang menunggu kami. Begitu masuk kamar, mendapati sosok mama terkulai tak berdaya di tempat tidur…kuberitahu teman, itu bukan situasi yang mudah bagiku. Aku sudah berjanji pada diriku untuk sekuat mungkin tidak menangis, tapi aku kalah….

Inilah masa-masa di mana kami saling menguatkan sebagai satu keluarga. Semua terpukul, tetapi kami memilih untuk tak terpuruk. Saling memahami satu sama lain, kami semua sepakat bahwa mama harus tetap diajak bergembira. Untuk cepat beradaptasi dengan semua situasi ini, rumusnya hanya satu yaitu “menerima”. Satu persatu dari kami berusaha mendidik keras diri kami untuk legowo dan menerima semua apa adanya. “Penerimaan” ini terutama harus kami bangun dalam hati mama. Karenanya, setiap kali mama menangis menyadari sebelah tubuhnya tak berfungsi, aku memegang tangannya, kuletakkan di dadanya bersamaan dengan tanganku, kubisikkan lembut ke telinganya ‘terima…terima semuanya mama. Dengan penerimaan itu, maka Tuhan akan menguatkan mama”.

Kini, Desember 2010, mama telah dalam masa pulih yang semakin membaik. Sudah bisa berbicara, berjalan, memasak, dan jalan-jalan. Proses ini telah menjadi penguat untuk kami semakin tegar dan optimis. Bagi kami, mama selalu menjadi inspirasi tentang ketegaran dan keberanian. Ada banyak masa-masa sulit yang telah dilalui kami sebagai satu keluarga, dan mama selalu menjadi orang yang sigap dan tangguh dalam menjawab semua tantangan persoalan. Mama penuh kasih. Tak peduli berapa kali telah dibuat kecewa, dia tetap hadir dengan maafnya yang luas. Mama luar biasa karena dia adalah seseorang yang memilih menjadi ‘ibu’ bagi kami, bukan bertindak sebagai pemilik kami. Mama selalu menemani kami dengan doa dan harapan baiknya atas kami. Terima kasih Tuhan, telah memberi seorang mama yang luar biasa bagi kami…

Mama…
my struggle one.
I love you, we love you…

Selalulah berbahagia mama,
Tuhan mencintaimu.
Amin.

Selamat Hari Ibu,
22 Desember 2010

Thursday, November 18, 2010

(27) Memantaskan 'ketakutan'

FEAR…
Itulah judul email Bro yang pertama kali untukku. Email itu adalah tanggapan pertama Bro atas situasi hati ku. Niatku untuk berbagi kebeningan doa, Tuhan jawab dengan banyak ‘bonus’, ketika dalam proses perbincangan, Bro mengajak aku untuk meluaskan perspektif, menggali lebih dalam, melangkah lebih lugas, juga bertafakur lebih jujur. Pada akhirnya aku menemukan arti pertemuan dan perbincangan antara aku dan Bro, telah melampaui dari apa yang kuniatkan semula. Semua yang kudapati telah lebih dari sekadar berbagi doa.

Pangeranku…
Ada banyak pelajaran yang kudapat dari Bro, yang sesungguhnya ingin kubagi denganmu. Mungkin itu bisa menginspirasimu. Semua situasimu, tanpa harus memasukkan kehadiran aku ke dalam hiruk pikuknya pun, telah menjadi benang yang cukup rumit untuk kau urai. Aku mendidik diriku untuk mengerti dan memahami bahwa situasi ini tidak mudah bagimu. Semua sisi solusi berpotensi untuk menjadi ‘bola panas’ yang tidak ingin kau lemparkan pada siapapun. Satu saat, jika semua terlalu berlimpah untuk kau tampung dalam hati dan pikiranmu, ajaklah orang yang kamu percaya untuk berbagi sudut pandang, bertukar pengalaman, berbincang dalam emosi yang teduh.

Kamu dan aku dalam stuasi yang sama tidak pastinya. Potensi kita untuk terluka, adalah sama besarnya. Tadinya aku berharap kita dapat saling menemani dalam menghadapi ini semua. Tapi aku tak ingin membuat situasi menjadi lebih keruh, terutama bagi hatimu. Aku diam, belum pergi, tak ingin pergi. Saat ini kita seperti sedang berjalan pada lorong yang berbeda. Bagiku, adalah bagian dari proses ketika ada ‘tembok’ yang membentang antara aku dan kamu. Dari sisimu, kau bisa memberi makna apapun pada semua keterbatasan situasi ini. Buatku, tak peduli seberapa tebal dan tinggi ‘tembok’ yang dibangun untuk menghalangi aku dan kamu, bahkan jika itu adalah ‘tembok’ yang dibangun olehmu sekalipun!!!
Lets struggling to surrender :).

I do believe, if we are meant to be, if you are my destiny, and I’am the one for you, maka Tuhan yang akan memampukan kita untuk melampaui semuanya. Keberadaan, ketinggian, dan ketebalan ‘rintangan’ akan selalu ada dan sejalan dengan bangunan persepsi kita akan keterbatasan, ketakutan, juga harapan. So, built the limit, and jump!!! Melompatlah!!! Ambillah bekal semampu yang bisa kau bawa, dari ingatanmu, pengalamanmu, juga perenunganmu. Semua yang sudah kau ketahui juga kau yakini, adalah ‘kepastian’ yang bisa kau genggam, bekal yang telah Tuhan izinkan ada dalam pengetahuan dan pemahamanmu. Olah dan proses-lah itu semua dalam ruang batin, juga akal logismu.

Melangkahlah demi masa depanmu, for your happiness, for the value of your life!!!
With or without me, I believe you will do something about your life.
Tetaplah semangat dengan semua harapan dan cita-citamu…
Tetaplah optimis bahwa semua akan menjadi lebih baik situasinya…
Tetaplah sabar mengurai ‘kekalutan’ itu…

Aku sendiri sedang dalam perjalanan menuju awal baru di penghujung Desember tahun ini. Aku berjalan dalam harapan juga ketakutan. Harapan yang kian kokoh dalam doa dan keyakinan, juga ketakutan akankah kau mengambil atau melepaskan aku??? Aku tak pernah berniat pergi. Tapi genggaman satu tangan akan selalu membutuhkan satu tangan yang lain untuk bertahan. Sepenuh hati aku berdoa, meminta kepada Tuhan, semoga kau tidak melepaskan aku, karena sungguh,
aku tak pernah ingin pergi darimu…

But still… you have your own decision,
and none of us knows what might be happened in the future.
All I believe that I have to make decision, and I did...

To be continued…

Tuesday, November 2, 2010

(26) Another 'hint'

Ahhhh... setelah hampir 3 minggu tulisan itu kupindahkan ke laptop mungilku yang kuberi nama 'si merah', akhirnya baru pagi ini aku dapat tuntaskan membacanya. Ada banyak gado-gado alasan. Pertama, karena tulisan itu memang datang padaku di tengah-tengah aku sedang tak luang waktu untuk berakses ria dengan internet. Lepas dari acara 'sibuk' di pegunungan, aku pun dilanda penyakit separuh lupa, dan ketika ingat, aku pun disapa lagi oleh penyakit separuh malas.. hehehehe.

And then, aku menemukan tulisan itu sebagai another 'hint' for me :)

Teman, pernahkah kau merasa 'sudah paham' tetapi tak cukup punya kemauan untuk melangkah?. Kau tahu apa yang harus dilakukan, tetapi langkah terasa dipaku, akhirnya kita tak kunjung beranjak untuk berbuat yang terbaik pada 'hari ini' dan 'saat ini'. Dalam sekilas membahas tentang "Ho'oponopono", pagi ini aku mengajak seorang teman untuk bersedia saling mengingatkan, agar pemahaman kami atas sesuatu tak hanya bersinar di alam pikir saja, tetapi kemudian tumpul dalam aplikasi perbuatan. Jangan sampai... Bukankah gagal ilmu tanpa amal, tak sempurna niat tanpa ikhtiar???

Dalam konteks ini, Bro semakin melengkapi pemahamanku ketika dia berbagi tentang Manajemen Ketakutan. Pernah, dalam satu dialog aku salah kata ketika mengatakan ingin hidup with "no worry". Menyambut kalimatku, Bro langsung tegas mengatakan, bahwa hidup tanpa KETAKUTAN adalah bukan hidup, tetapi MATI. Bahwa, semakin tinggi tingkat ketakutan yang dihadapi, maka semakin kita akan mendapati kehidupan yang 'hidup'. Bro juga menggarisbawahi, bukan keberanian yang dibutuhkan untuk melangkah, tetapi kemauan. Keberanian itu sendiri hanyalah alat dari kemauan yang dideklarasikan.

Dalam ketidakmauan untuk melangkah, banyak alasan yang bisa kita buat. Setiap alasan bisa jadi punya nama yang berbeda, tetapi menurut Bro, semuanya berangkat dan bermula dari satu hal, yaitu KETAKUTAN. Ketakutan akan ketidakbahagiaan, ketakutan akan kemiskinan, ketakutan akan dikhianati, ketakutan akan tidak dihargai, ketakutan akan ditinggalkan, dan lain-lain. Seringkali tersedia banyak kesempatan, tetapi kita tak menjawabnya dengan satu keputusan yang lugas. Asumsi tentang dimensi 'waktu' seringkali menjadi penjara, dan yang lebih tak sehatnya, penjara waktu itu biasanya muncul dalam bentuk 'past' atau 'future', bukan 'NOW'.

Yup, beberapa penggal kalimat Bro yang aku baca dalam tulisannya itu, sekali lagi... membuat aku tersenyum, tertawa, sekaligus merasa 'ditampar'. Tapi tamparan ini tidak terasa keras dan menyakitkan. Mungkin karena sebelumnya aku sudah 'menampar' diriku, sebagai bentuk dari latihan mental, ketika aku medeklarasikan kemauanku untuk tak berlama-lama ada di kota abu-abu.

Tuhan memang selalu bergerak misterius dengan semua rencanaNya. Dia memunculkan begitu banyak variasi kenyataan yang dapat terjadi dalam hidup seseorang. Dia memutuskan, tetapi membiarkan kita memilih. "Pilihlah...maka Tuhan yang akan menjagamu, dan Tuhan yang akan mengantarkanmu. Dan sebagaimana pengantaran dan penjagaan pada umumnya, Tuhan akan selalu tegas dalam memberi lampu merah". Itulah yang pernah Bro katakan padaku, beberapa waktu yang lalu.

Aku merasa seperti sedang melangkah kedalam jurang yang gelap,
yang aku tak tahu apakah dasar jurang itu akan ramah atau menyakitiku.

Aku KETAKUTAN...

to be continued...

Monday, October 25, 2010

(25) I do.

Life is always in the balance
and being in love, it's a life balanced.
It does.

Love surrounded by strong believe, that's what i have NOW.
Eventhough I love to give my tomorrow, there is no tomorrow.
Nothing i can promise for tomorrow.

Stay and leaving just a question of life.
Love comes and goes without asking.
unpredictable...

Dear my prince,
I'll give my best to keep NOW become FOREVER, if u said so.
Coz with no doubt, I do wanna stay here.
I do.

to be continued...

Thursday, October 7, 2010

(24) Sabtu ceriaaaaaaaaaa ;)

Akhir pekan awal Oktober 2010, adalah salah satu dari sekian banyak moment berkesanku bersama kehidupan. Tulisan ini kubagi dan kunyatakan sebagai salah satu bentuk ekspresi bersyukur-ku atas banyak hal baik yang Tuhan izinkan terjadi padaku. Sebelumnya, sempat terpikir untuk memisahkan tulisan ini dari kisah "Esprit Glow". Tetapi kemudian aku menyadari, bahwa kisah ini pun sangat bertaut dengan proses perjalanan 'rasa' ku bersama sang pangeran.

Bagaimana semua saling mengait satu sama lain ???
Tak bisa lain kukatakan bahwa simpul yang menautkan kami adalah "spirit" teman...
Ya. True spirit yang membuat kisah kami saling terhubung satu sama lain.
Lebih dari itu, keterkaitan kisah ini adalah karena orang yang akan kuceritakan (selanjutnya akan kutulis dengan nama panggilan 'Bro'), juga temasuk salah satu dari sekian orang yang bersedia berbagi kebeningan doa atas nama cinta yang aku rasakan untuk pangeranku.

***

Perkenalanku dengan Bro difasilitasi oleh seorang sahabat dekatku. Awalnya sangat sederhana, bermula dari ‘statement’ Bro yang dibagi ke aku oleh temanku. Radar intuisiku seketika menangkap kalau Bro ‘different’. Pada sahabatku aku minta untuk dikenalkan. Kami pun berkenalan. Surprise lagi buatku ketika mengetahui, bahwa ternyata sudah sejak beberapa tahun yang lalu sahabatku ini berniat mengenalkan aku pada Bro. Bahkan, pada satu waktu ketika aku dan Bro berada di kota yang sama, dia berniat mempertemukan dan memperkenalkan kami. Tapi karena sempitnya waktu, niat ditunda oleh sahabatku. Aku sendiri sama sekali tidak tahu menahu mengenai niatnya. Baru beberapa bulan yang lalu kami dikenalkan, dan baru beberapa hari yang lalu sahabatku terbuka tentang niat ‘terselubung’nya itu. Sahabatku bilang, tampaknya memang baru sekarang jodohnya kami untuk dipertemukan. Buatku sendiri: everything just in perfect time ;).

Well..well..well… perbincangan pun dimulai…

Aku menulis surat elektronik padanya, bertanya banyak hal, dan mendapati dia berkenan menjawab dan mendampingi rasa ingin tahuku dengan perhatian dan kesabaran. Belakangan kuketahui ternyata perbincangan melalui surat dengannya, bukanlah sesuatu yang bisa terjadi begitu saja. Suratku sebelum sampai ke Bro ternyata harus melewati semacam proses ‘sortir’ oleh seseorang yang bisa dikatakan 'berkuasa' untuk meneruskan atau menahan surat ku itu. Hmmm… suratku sampai selamat kepada Bro, kurasa juga ada campur tangan rekomendasi sahabatku ;).

Bersama Bro aku menemukan dan merasakan atmosfir perbincangan yang 'menggigit'. Pada sosoknya aku menemukan pribadi dengan keunikan yang menurutku sangat 'limited edition'. Teman, aku selalu mudah terpikat dengan orang-orang yang dalam jiwanya menyala semangat untuk 'hidup' dan 'menghidupi' kehidupan. Orang-orang yang peduli tidak hanya tentang hidupnya sendiri, tetapi penuh kasih pada lebih banyak hidup orang lain. Orang-orang yang menampilkan kesederhaan tetapi sesungguhnya menyimpan kedalaman dan kekayaan jiwa yang luar biasa. Orang-orang yang tidak ‘kalap’ dengan pernghormatan manusia, karena sadar hanya Tuhan yang layak untuk dimuliakan dan diagungkan. Sayang, orang-orang seperti ini cukup langka untuk ditemukan, karena dunia semakin hari semakin sesak dengan orang-orang berkepribadian ‘topeng’. Aku bersyukur telah menemukan lagi satu dari sedikit orang-orang 'langka' itu.

Bro memunculkan banyak ‘curious’ dalam hatiku. Melalui perbincangan2 kecil, dia mengajakku untuk meneropong sekaligus menyelami lebih ‘jauh’ dan lebih ‘dalam’ tentang hakikat dari banyak hal. Bagi Bro… Jiwa yang ‘hidup’ (Bro mungkin akan membahasakannnya dengan ‘freedom’) adalah titik awal dari semua hal pengundang keajaiban ke dalam hidup seseorang. Bahwa jiwa yang ‘mencari’ akan selalu diiringi oleh pembinaan dan pendampingan secara langsung oleh Tuhan, bahwa Tuhan tidak pernah mengingkari hambaNya yang berserah. Latar belakang pengalaman hidupnya yang masih samar buatku, kuyakin telah menjadi proses yang mengasah, menghempaskan, melukai, juga menguatkan, sehingga membentuk dan menjadikan Bro seperti riil adanya dia saat ini. Semoga Tuhan selalu mencintainya.

Pernah Bro berbicara tentang proses ‘transformasi diri’ yang menurut Bro sangat sederhana sejatinya. Transformasi memang selalu melesatkan orang, dan kebanyakan orang menginginkan karena bagusnya saja, tetapi lupa bahwa di belakang semua itu akan selalu ada proses yang harus di’bayar’. Bro tidak suka sesuatu yang ragu dan ambigu. Menurut dia, kontemplasi itu ada bersama tindakan, bukan mendahului tindakan. Hanya dibutuhkan ‘kemauan’ untuk memilih, sedang keberanian adalah bentuk motivasi saja.

dan lain-lain…. dan lain-lain…. :)

Satu lagi dari banyak hal yang membuatku terkesan adalah ketika Bro berkenan berbagi pemahaman dan pengalamannya tentang bagaimana “mendidik dengan cinta yang sadar". Aku punya minat yang sangat besar dalam bidang pendidikan. Yaitu pendidikan yang berbicara tidak hanya sebatas transfer ilmu untuk memenuhi ranah kognitif, tetapi lebih jauh, bagaimana menjalankan konsep pendidikan yang dilandasi dan diisi oleh cinta, dalam keteladanan dan pendampingan yang utuh dari orangtua. Menjalankan konsep pendidikan seperti demikian, dibutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan kognitif dari para orangtua. Mengutip perkataan Bro “Cinta yang membimbing, bukan ilmu, bukan uang”.

Satu catatan penting buatku, Bro, bukan hanya bicara, tetapi dia melakukannya. Dalam konteks pendidikan ini, Bro bahkan sudah membagi sebagian dari pemahaman dan perilakunya tentang ‘cinta yang sadar’ itu ke dalam sebuah buku. Aku beruntung mendapat satu buku, dikirim langsung ke alamatku. Di halaman awal Bro selipkan pesan singkat: “Ivy, janganlah ini menambah berat permenunganmu, tapi hendaklah ini meneguhkanmu, melangkah dan mewujud”. Ketika membaca itu aku merasakan ada energi yang masuk ke tubuhku, membuatku bergetar dan tersenyum happy. Bagiku, itu adalah pertanda bahwa Bro mengirim kata-kata itu dengan hati yang tulus untukku. Gelombang ketulusan tidak pernah salah alamat, itu yang sejak dulu kuyakini.

Bro banyak memberitahu dan membantuku. Pernah satu waktu aku bertanya tentang sesuatu padanya. Membaca jawabannya membuatku tertawa dan tersenyum hampir seharian akibat isi surat yang sebenarnya ‘menampar’ tetapi dikemas dengan jenaka. Pada saat kali pertama aku menerima telpon langsung dari Bro, kusinggung ‘tamparan’ nya itu, dan kami pun tertawa bersama. Bro mentertawakan aku, dan aku mentertawakan diri sendiri.

Ahhhh… You know my friends… Jika saat ini aku tidak sedang dalam komunikasi yang terputus, akan kubagi dengan pangeranku tentang berbagai isi perbincanganku bersama Bro. Kuyakin, pangeranku akan menyukainya, dan kami akan bersemangat untuk menelusuri lebih jauh tentang hal-hal baru (juga tentang hal-hal lama yang disadarkan dan diingatkan kembali) yang disampaikan oleh Bro.

Berbagi dengan orang-orang yang istimewa di hatimu, membuat semua akan menjadi lebih indah dan bermakna. Perbincanganku dengan pangeran, tak selalu tentang hal-hal yang serius. Diantara berbagai celetukan konyolnya yang sangat mudah membuatku tertawa, dia senang berdiskusi dan berbincang tentang permasalahan umat. Diantaranya bagaimana situasi perbedaaan yang seringkali disikapi dengan pikiran yang sempit lagi dangkal, pertengkaran2 dan pertikaian sesama saudara, sampai perbincangan tentang industri musik yang sering buat dia ‘gemes’ karena dianggap terlalu mengikuti selera pasar sehingga mengesampingkan kualitas...hehehe.

Pangeranku, juga Bro, sama-sama prihatin pada banyak hal yang mungkin bagi kebanyakan orang sudah dianggap ‘biasa’ dan tidak perlu dipikirkan. Mereka mengambil jalur yang tidak biasa dalam cara berpikir, sudut penyikapan, dan aktualisasi tindakan. Mereka ‘mencari’ dan senang ‘mencari’, karena mereka adalah seorang 'pencari'.

****

I miss my prince...

****

To be continued….

Monday, October 4, 2010

(23) Follow your heart

Follow my heart…
itulah yang aku lakukan ketika memulai semua perjalanan 'rasa' ini. Tak tahu bagaimana akan menjalaninya, juga akan berujung kemana semua proses ini. Titik awal semuanya adalah keyakinan. Keyakinan yang kupilih dan kuikuti jalannya. Kepada Tuhan, aku mendedikasikan diriku sepenuhnya pada proses ini, pada keyakinan ini. Aku memilih untuk menerima dan bertindak atas keyakinan ini. Dan aku mendapati betapa Tuhan telah memudahkan aku menjalani keyakinan ini.

“Mungkin...Keyakinan itu adalah motivasi dari Tuhan untukmu”, begitu sejawat yang kutuakan dan kuhormati mewejangi ku, ketika aku berbagi padanya tentang bibit keyakinan yang tumbuh misterius dalam hatiku, pada awal-awal masa perkenalanku dengan pangeran. Kukatakan misterius karena aku memang tak mampu menjelaskannya dengan akal dan nalar. Pertemuan fisik dengan pangeranku hanya (baru) terjadi 2 kali. Komunikasi kami sangat tak bisa kukatakan intens. Tapi aku mendapati hatiku mampu untuk mempercayainya, tanpa perlu diyakinkan oleh siapapun atau apapun.

Follow your heart...
Ya, jika kau berada di satu simpang keyakinan, dan kau mencoba berbagi dilema itu dengan orang lain, ntah itu orang tua, keluarga terdekat, atau sahabat: jawaban yang biasanya akan kau dapat adalah: just follow your heart...

Kuberitahu teman, tak mudah menyerahkan semuanya pada apa yang hatimu katakan. Hati akan selalu jujur, dan kejujuran akan selalu membutuhkan keberanian, baik untuk menerima nya, juga untuk bertindak atas penerimaan itu. Bahasa hati adalah murni, dan akan selalu benar, karena Tuhan ada disana. Hanya terkadang, kebenaran itu terselimuti dengan sangat halus oleh berbagai pertimbangan pemikiran yang seringkali justru menyeret kita semakin menjauh dari substansi dan akar masalah.

Just follow your heart my prince...
Semampu yang bisa kau dengarkan dari apa yang hatimu katakan tentang semua ini... just follow it. Aku percaya hatimu akan jernih melihat ini semua. Kau memiliki hati yang lembut, aku merasakan itu. Kelembutan dan kejernihan hatimu, aku yakin akan memudahkanmu untuk mengenali semua rangkaian proses yang membentuk peristiwa ini, satu persatu, dalam bentuknya yang asli.

Perhaps, dalam salah satu celah prosesnya, kau akan menemukan apa yang kau cari selama ini. Penemuan yang akan membawamu pada satu pilihan yang tegas dan jelas. Pilihan yang akan melepaskanmu dari belenggu keragu-raguan. Pilihan yang membuatmu yakin menatap masa depanmu, bersama siapapun yang kau inginkan ada disampingmu untuk berbagi masa depan. Siapapun yang kau yakini...

So, dengan apa yang sudah dan masih kau pilih saat ini…
Berbahagialah pangeranku.... berbahagialah...

Dari hatiku, dalam sayang dan peduliku padamu,
dimanapun aku berada, dan bagaimanapun situasi memisahkan aku darimu,
aku akan selalu menemanimu dengan doa.
selalu...

To be continued…