Thursday, September 22, 2011

bunga ^^

taman itu megah, mengundang decak kagum, menawan tuk disinggahi, seakan menjanjikan kesukaan. lalu, sepenggal langkah menuju mulai kau melihat darah berceceran, bau busuk menyerupai wangi.. semakin dalam, mata mulai terbiasa melihat darah lalu, samar, mulai terasa nafas menjadi sesak. "tapi aku masih bisa bernafas bukan? Ya sudah...biarkan saja..." hmmmm.... kesadaran rawan tertipu kepalsuan sangat elok menyimpan dusta belenggu menyerupai janji kebebasan penjara menyerupai kenyamanan ketakutan menyerupai kebijaksanaan tipis...sangat tipis... darah masih tercecer, serangga masih mengancam, bau busuk masih menebar.. yang berbeda adalah, telah kupetik satu bunga, bunga yang telah lama sabar menantiku, untuk kembali berpelukan bersama wangi murninya. Ya bunga, kita kembali bersama. hanya ada aku, kamu dan DIA. [Bandung, 22 September 2011]

Thursday, July 14, 2011

matahari


……..: “Aku ingin memanggilmu matahari. Kau keberatan?”.
……..: “Tidak. Aku suka matahari. Sinarnya bawa terang”
……..: “Kau memanggil dia dengan Pangeran. Adakah panggilan istimewa untukku?”
……..: “Belum. Apakah itu penting untukmu?”
……..: “Aku ingin menjadi istimewa untukmu.”
……..: “Aku memberi kita kesempatan bukan?”

Hening….

……..: “Kita akan menikah!”.
……..: “Kau yakin?”
……..: “Kita sudah menjalani setengah dari kemungkinan itu bukan?”
……..: “Mungkin. Aku tak ingin berjanji. Kau tahu sebabnya”
……..: “Ya, aku tahu…. Tehnya sudah dingin. Mau ganti dengan yang lebih hangat?”

Thursday, June 9, 2011

Hollaaa! Glad to see you again!

You know…
butuh keberanian untuk menyengaja bertemu kembali denganmu. Ada yang aneh dengan pertemuan terakhir kita. Sejak terakhir aku melihatmu, dalam kurun waktu tertentu, ingatan ku tentangmu telah menyandera ruang emosiku. Aku bahkan menangis tersedu-sedu, mengingat saat tragisnya kamu pergi, dan bertanya-tanya pada hatiku, apakah aku akan bisa bertemu lagi denganmu dalam suasana hati yang tak lara.

Kita tak bertemu sering. Mungkin tak lebih dari tiga puluh tatap muka. Tapi pada pertemuan-pertemuan terakhir jelang perpisahan, sosokmu mulai menyandera kuat ingatanku. Sikap misteriusmu, tatapan yang tajam tapi gamang, keceriaan yang jujur dan polos, juga ketakutanmu atas rasa terbuang… Apa yang tersirat dari sosokmu, telah perlahan menarik perhatianku untuk lebih memperhatikanmu dibanding yang lain.

Kamu mudah berurai air mata. Ah, aku tak bermaksud menyebutmu lelaki cengeng. Bukan…bukan itu maksudku. Aku mengerti, bahwa penggal masa lalumu telah menyumbang banyak sisi kerapuhan bagi hatimu. Ya, perasaan ‘terbuang’ membuatmu jiwamu dipaksa siaga, meragu, penuh tanya akankah sekeliling mengabaikan dan mengingkarimu kesetianmu?. Kepercayaan dirimu yang rapuh, telah membuatmu sulit untuk mempercayai orang lain. Hingga satu waktu, kamu gagal untuk mempercayai, lalu terperangkap dalam tragisnya perpisahan. Hal yang bisa kuingat adalah bahwa kejadian demi kejadian berpacu begitu cepat. Kamu bahkan mungkin tak menyadari ketika sedang melangkah pada jurang kegagalanmu sendiri. Sampai ketika hatimu menyadari kebenarannya, semua sudah terlambat. Bagimu tak ada jalan untuk kembali, kecuali terus menghadapinya. Aku bersedih, sungguh bersedih untuk apa yang kau alami.

Pertemuan terakhir begitu menguras emosi. Secara personal aku menemukan diriku semakin terlibat dalam kisahmu. Butuh waktu bagiku untuk menyeimbangkan hatiku. Ingatan tentang saat-saat kau tersungkur, berjuang sepenuh hati mencoba menuju ke tempat dimana kau menemukan kepercayaan itu tetap menyala untukmu, saat-saat kau tak bisa menolak bahwa perpisahan telah menjadi TAKDIR yang tak dapat kau hindari…. lambaian tanganmu yang melemah…lalu hilang…sunyi…senyap…pergi… yang terdengar kemudian hanyalah tangisku yang pecah. Sejak itu, aku memilih untuk tidak bertemu denganmu, sampai dengan kemarin malam…

Ya, kemarin malam aku tak menolak untuk bertemu.

Terakhir bertemu, kamu terlihat rapi dengan rambut panjang yang seringkali diikat, juga kumis tipis yang seakan-akan menegaskan “I’am mature”. Kali ini kamu muncul dengan rambut yang lebih pendek (tetap tergolong panjang), dengan kumis yang lebih tebal. Aku pernah mendapatimu tanpa kumis, membuatmu terlihat lebih “childish”, apalagi dengan tingkah lakumu yang sering jahil. Aku masih menangkap aura kesuraman di wajahmu. Hal yang tak berubah adalah seringai senyummu, tatapan sendu, cara berjalanmu, lirikan tajam...

selebihnya, kamu tetap istimewa…

bandung, 9 Juni 2011

Tuesday, May 31, 2011

(30) can we ???

Sungguh...
Aku merasa kau sudah mengajakku “berputar-putar” menghadapi ‘situasi’ kita.
Kita sudah melewati beberapa perbincangan, bertukar statement,
berbagi pandangan, juga memaparkan situasi dari sudut pandang kita masing-masing.
Masihkah kau belum paham substansi bagaimana aku mencintaimu?

Kau meragukan aku?
tidak percaya dengan komitmenku?
meyakini bahwa aku tak paham ‘batas’ kita?

Sekali lagi, aku garis bawahi substansiku:
Kau tidak bisa menyuruhku berhenti untuk mencintaimu,
Tapi kau sungguh bisa mengabaikan cintaku,
lalu kita berteman seperti jutaan orang berteman di muka bumi ini!


Kalau kau berpikir bahwa cintaku hanya sebatas pada tujuan bagaimana aku bisa bersamamu; atau kau menganggap cintaku hanya terpaku pada tujuan kau membalas cintaku, maka kau salah!!! Kuharap kau jangan terlalu sempit mengartikan cintaku.

Setelah semua yang aku jelaskan padamu,
email-emailku, perbincangan langsung kita, tulisan-tulisanku…
baca...baca dan ingat setiap yang pernah aku katakan padamu.
Cermati dengan hati nuranimu, juga pikiran yang jernih.
Masih kau belum paham tentang bagaimana aku berusaha untuk
menempatkan semua ini pada tempatnya?

Kau tahu, tak setitik hatiku menabur benci pada kekasihmu, walau kata-kata dia telah menyudutkan aku pada situasi sepertinya aku seorang ‘pengacau’. Jika memang bangunan kalian yang tidak kokoh, apakah selamanya kalian akan menyalahkan angin yang menerpa???

Lalu, apa alasanmu mengajakku dengan semua strategi komunikasimu?
Melindungi dia? Melindungiku? Atau melindungi dirimu sendiri?
Apakah kau tidak cukup berani untuk menghadapi kenyataan atas cintamu sendiri?
Cinta yang sudah kau pilih dan ingin kau wujudkan?

Please…
Berhenti mencurigai cintaku.
Lets moving on with our own life.
You with yours, and me, with mine.

Then, as we believe,
that through friendship we both can help each other DO something bigger than us,
I‘am asking you now:
"can we have a friendship without any term and condition???"

to be continued...

Tuesday, April 26, 2011

Salahkah cara kami ???

Aku lahir, hidup, dan berkembang dalam keluarga yang demokratis. Sejak kecil kami terbiasa dan dibiasakan untuk terbuka, belajar saling mendengarkan dan menerima satu sama lain. Keluarga kami hangat, penuh pelukan. Banyak masalah dalam berbagai skala besarannya, telah menjadi bagian dari kami berproses untuk menjadi lebih kuat dan tangguh sebagai satu keluarga yang utuh. Kami telah 'dilukai' dan mungkin juga telah 'melukai' orang lain. Seperti yang sedang terjadi saat ini....

'Kabar' itu telah melukai keluarga kami. Papa.. mama... walau fisik mereka terlihat santai dalam senyum kasihnya, aku tahu, hati mereka telah dirobek oleh kenyataan yang tidak diharapkan ini. Tapi semua sudah terjadi. Membicarakan yang sudah terjadi, hanya akan menghabiskan energi untuk menyesali, meratap, lalu berujung saling menyalahkan. Hidup adalah kedepan. Memperbaiki yang kurang baik, menyempurnakan yang sudah cukup baik, lalu membiasakan yang sudah baik.

Kami pun duduk bersama. Setiap orang mendapatkan kesempatan untuk 'bicara' bagaimana solusi akan diambil untuk menyikapi masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Kami mencoba 'adil' pada pihak yang telah berperan besar pada eksekusi kesalahan dengan mengedepankan kasih sayang sebagai semangat solusi.

Tapi....
Aku dirundung tanya yang semakin menajam.
Telahkah kami salah menyikapi ini semua???

Untuk saudaraku tersayang...
Adakah kamu memahami dan mengerti maksud kami?!
Bahwa ketika kehangatan kelurga tak berkurang untukmu, bukan berarti keluarga membenarkan perbuatan salahmu. Apakah sungguh kau telah belajar dari kesalahanmu???
Sungguh, aku khawatir 'pengertian' kami dipahami sebagai pemakluman. Bukan! Bukan pemakluman!!! Yang salah tetap salah. Kami hanya menyayangimu tanpa syarat.

Kejadian ini telah menjadi catatan hitam, baik bagimu, hidupmu, juga keluarga.
Tetapi bukan berarti catatan kita tidak bisa bisa menjadi bersih kembali.
Semua ini adalah kesalahan, tetapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki.

Tapi...
Apakah kamu paham ???
Melihat senyummu...caramu...sikapmu...
Jujur, aku ragu.

Tuhan, ampuni kami.

Monday, February 28, 2011

(29) The reason behind 'You'

Guys, let me tell you my biggest hope in 2011. It is MARRIED.
Yes, I wanna get married with someone that I can share with: take and give about everything. Sengaja aku memberi tanda petik untuk kata ‘You’ pada judul tulisanku, karena sosok itu masih misterius bagi hatiku. Aku sudah menemukan ‘dia’, tetapi apakah ‘dia’ sudah menemukan aku, seperti aku menemukan ‘dia’, it’s not clear yet!!!

So, what I need first before get married ???
It’s love…

Dimana kita dapat menemukan cinta??? Di negeri antah berantah…hehehe.
Well..well..“Cinta” akan menjadi kekuatan yang tak kan pernah ada cukup kata untuk mendefiniskannya. Cinta itu seperti busur panah yang melesat bebas dari langit, terserah mau mengenai siapa, kapan, dan dimana. Jadi, buatku sederhana saja. Kalau kau jatuh cinta, ya terima saja. Aku bukan orang yang suka berdebat panjang lebar dengan diri sendiri, membuat penyangkalan-penyangkalan untuk tidak menerima, ataupun membuat pembenaran-pembenaran untuk memaksa diriku menerima. Terima apa adanya sesuai yang terbaca oleh hatiku, jalani sepenuh hati, minimalkan keluh kesah, be positif, bersyukur, dan berbaik sangka kepada Tuhan. All would be enough for me to face everything…

So, mari kita tinggalkan penjelasan tentang arah dan datangnya cinta yang misterius itu. Coz itu bukan wilayah kita untuk menjelaskan. Biarkan itu menjadi konspirasi unik Tuhan dengan semestaNya. We just need to accept that as the way it is, no more no less.

Oke then, lets talk about married ;-)

Banyak pertanyaan tertuju padaku tentang apa dan bagaimana kriteria pendamping hidup idaman. Jujur, sampai sekarang ini aku tak pernah punya jawaban dalam bentuk ukuran-ukuran ataupun penjabaran-penjabaran normatif. So, jawabanku biasanya sangat sederhana yaitu: “aku akan merasakannya dan mengetahuinya jika kami sudah bertemu”. Yup, itu adalah jawaban yang sangat abstrak. Tetapi sampai aku bertemu dengan orangnya, yah aku tak kan bisa menjelaskan banyak hal tentang itu.

dan inilah beberapa hal yang bisa aku jelaskan seputar alasan dan pertimbangan ketika aku memutuskan untuk berbagi hidupku dengan seseorang.

First thing first: I need that ‘klik’.
Ya, aku memerlukan chemistry which most people called it with ‘love ;-). Cinta penting sebagai modal yang sangat abstrak, tetapi daya kekuatannya tak bisa kau katakan abstrak. Karena cinta mampu mendrive mu untuk melakukan apapun yang terbaik bagi orang yang kau cintai. Cinta mampu menjadi daya bagi seseorang untuk berbuat melampaui apa yang tadinya ia pikir tak mampu dilakukan. Cinta kadang tak selaras dengan logika, tapi untuk membuatnya sehat dan berdampak positif dalam jangka panjang (abadi seabadi usiamu, kekal sebagai tabungan kebaikan di akhirat), maka cinta butuh untuk disandingkan dengan logika. Karenanya, dalam mencintai, aku tak melepaskan ‘logika’ sebagai jalur bagi akal logis kami dalam memetakan arah dan tujuan dari cinta yang kami rasakan.

Maksudnya???

Begini, dalam pertimbangan logisku, pernikahan itu seperti membangun satu perusahaan. Karena pernikahan akan menjadi satu perusahaan, maka langkah awal bagi kami adalah ‘setor modal’. Hmmm..jangan berpikiran sempit dengan menyederhanakan konsep modal ini menjadi konsep yang dangkal hanya berupa hitungan rupiah semata. Kekayaan dan status bagiku hanya pendukung. What I need is something ‘inside”, sesuatu yang ‘ada’ apa adanya dalam hati seseorang, pijakan dasar seseorang atas tujuan dan arti hidupnya, dan semampu mungkin membaca aktualisasi ‘dasar’ tersebut dalam sikap dan perbuatannya sehari-hari. “Kualitas sikap mental” itu adalah kata kunci bagiku ketika berbicara tentang ‘modal’ ini.

Satu catatan yang selalu kuingat baik adalah bahwa “kualitas’, baik itu dalam bentuk kelebihan maupun kekurangan selalu akan menjadi satu paket yang utuh. Karenanya, semampunya, aku menghindar dari melakukan perbandingan dalam konteks ‘baik’ atau ‘buruk’ terhadap kapasitas seseorang, tetapi lebih kepada menjajal kesiapan mentalku untuk menerima konsekuensi dari setiap yang ‘baik’ dan ‘buruk’ yang akan selalu melekat dalam dirinya, juga dalam diriku. Tidak ada manusia sempurna, sebagaimana kita tak kan pernah menjadi sempurna bagi seseorang. Yang ada adalah saling menyempurnakan satu sama lain.

Pernikahan buatku lebih dari sekedar love between me and my husband. Pernikahan adalah sinergi untuk menggabungkan kekuatan, juga bagaimana kelemahan dipandang sebagai kekuatan yang belum terberdayakan. Why? Menurutku, manusia itu tumbuh dan berkembang. Semakin kita belajar, semakin kita meluaskan area pemberdayaan kita untuk menjadi dan berbuat lebih baik dalam berbagai aspek kehidupan. Karenanya, aku berharap dapat menemukan pasangan yang bersedia untuk terus belajar.

Then, mari kita bicara aspek tanggung jawab.
Pernikahan adalah komitmen, dan tidak ada hal lain dari komiten selain segala sesuatunya menjadi ‘real’. Kehadiran anak dalam pernikahan adalah the biggest komitmen yang akan menjadi kebahagiaan sekaligus tanggungjawab bagi kami selaku orangtua. Karenanya, menikah bagiku, bukan sebatas mencari seorang suami yang bisa aku andalkan, tetapi juga mencari seorang ayah terbaik bagi anak-anak yang akan lahir dari kebersamaan kami. Tak cukup bagiku hanya sekadar menemukan ‘bibit unggul’, tetapi kemudian minim kesadaran untuk memahami bahwa segala sesuatu harus dirawat dan dijaga. Berbagi peran dengan rasa sayang dan saling menghormati satu sama lain, tak sanggup berhitung siapa yang lebih sulit atau lebih ringan perannya karena semua dilakukan dengan rasa senang dan bahagia.

Aku berbahagia dengan tanggungjawabku!
Karenanya, aku ingin bersama dengan seseorang yang berbahagia dengan tanggungjawabnya, bukan melakukan sesuatu karena dia wajib melakukan, tetapi karena dia senang dan bahagia melakukannya bersama-sama denganku.

Next, what I dream adalah pernikahan yang berangkat dari dasar pemikiran” Lets think and do things bigger than us!!! Meaning… aku berharap kebersamaan ku dalam komitmen dunia akhirat bersama seseorang, tidak hanya berhenti pada sebatas: menikah, punya anak, membesarkan anak, menikahkan anak, jadi kakek nenek, lalu mati! My dream is bigger that that!!!

Aku selalu terinspirasi oleh kata-kata papaku, bahwa ketika kau hanya berpikir tentang dirimu sendiri, maka hanya akan sebatas itulah duniamu, sempit dan cenderung egois. Tetapi jika kau berpikir tentang orang lain, maka Tuhan akan memberikan jalan bagimu untuk menjadi berkat bagi lebih banyak orang lain, dan tentu saja…itu sudah termasuk untuk dirimu sendiri…

Tentu, kau tak mungkin menemukan semua impianmu tanpa halang rintang yang sepadan dengan kualitas yang sedang ingin dibangun oleh Tuhan dalam diri kita. Apakah cukup dengan mimpi, kau bertemu pangeran, menikah, lalu bahagia tanpa kau harus ‘berusaha’. Sepanjang pengalamanku, Tuhan selalu ‘ajaib’ dengan semua kejutan-kejutan indahNya dalam perjalanan hidup seseorang. Karenanya, aku butuh seseorang yang bersedia untuk senantiasa saling mengingatkan bahwa setiap jengkal kehidupan wajib untuk disyukuri. Bersyukur adalah penerimaan yang akan melahirkan kekuatan untuk dapat menghadapi berbagai persoalan yang menjadi pertanda kita sedang ‘diajari’, disayang, di’cubit’ atau ditegur oleh Yang Maha Satu.

So, rumusku dalam hal jodoh adalah ‘tak ada rumus’ ;-).
Terima, jalani, ikhtiarkan, serahkan kepada Tuhan.

Aku sungguh tak akan main-main dan seadanya untuk urusan yang namanya MENIKAH. Tetapi juga gak perlu ‘njelimet sampai kehilangan selera untuk menikmati setiap jejak proses yang Tuhan izinkan terjadi padaku. Sampai kini, belum ada kejelasan tentang keberadaan ‘You’. Tapi aku tak akan berputus asa dan akan terus berikhtiar. Ketika kau yakin Tuhan Maha Adil dengan semua yang Dia perbuat atas hambaNya, maka aku hanya ingin bersahabat dengan realitas dalam rasa syukur atas semua yang sudah dan belum Dia berikan kepadaku.

Tetap dalam garis ikhtiar,
merencanakan apa yang bisa aku rencanakan, melakukan apa yang bisa aku lakukan,
dan membiarkan Tuhan menyelesaikan apa yang di luar kuasaku untuk melakukannya.

.....and I’still hold my dream to get married this year ;-)

to be continued...

Thursday, February 24, 2011

kini dan nanti....

tentu,
Masih terlalu dini untuk berasumsi bahwa
semua akan terjadi persis seperti ‘harap’ yang telah lama bergaung dalam hati.

tentu,
masih terlalu muda untuk menyatakan bahwa perjalanan mencari dan menemukan
telah usai. Kita sama-sama tahu, dalam berbagai dimensi tingkatan, hidup tak pernah usai dari yang namanya ‘mencari’.

My dear friend,
Aku tak ingin berandai-andai tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan.
All i believe, everything is possible, tanpa bisa kau duga ataupun rencanakan.
So, enjoy your day with happiness.

Tentang esok… nanti…
biarkan terjadi sesuai dengan inginNya.
Rencanakan apa yang bisa kamu rencanakan.
Nikmati setiap ayunan perasaan yang kini sedang menggelitik hatimu.
Jalani semua dengan prasangka luas atas rencana baik Tuhan untuk hidupmu.

Setelah semua yang terjadi,
Semakin kita tak punya alasan untuk meragukan
bahwa Tuhan sungguh ‘ajaib’ rencananya.
^_*

Be happy my dear…
All the best wishes for you.
^_^

(untuk seorang sahabat yang sedang berbahagia,
semoga kebahagiaan senantiasa bersamamu)

Friday, January 28, 2011

The truth...

Imagine!!!
You live with someone who said that he/she loves so much, but indeed, there is no love!!!. Escape from one to one reason, but the only reason just there is no more love. Love already become a death feeling. You just feel sorry, but an the end, it’s not enough for you to be happy. Dispite everyone has it own reason to feel sorry or to be in love with someone, I figure it out that love it’s only the beginning of chemistry. Marriage it’s a huge commitment, and it still truly need to put the logic reason behind decision to get married.

For the past last three weeks, I’ve been shocked for the story that happened to the people around me. Hurt and being hurt, lie and being lied, distrust, anger, jealousy, and so many others uncomfortable feeling. They have long been aware there is something wrong with the relationship, but hope with time will find a way out which better than parting. But then finally, split remains the best answer.

Yes, sometimes no matter how you wish otherwise it is not to be.
For years hoping it can fix the situation, but at the end, your hands up, can't do anything more, tired. Finally, no matter you escape, you will always find the truth of everything. You can push yourself to realize that, or something beyond your control will push you to accept the reality. No way to escape anymore. Face and overcome will be the only way to follow!!!

It will need the courage to firmly make a decision. Along the process of making and receiving decision, I see heartbroken with disaster angger. Love turned to hate, happiness to sadness. Of course, different people different attitude. The problem may be the same, but how to confront and solve problems will be different from each other. Patience, persistence, mutual trust, desire to understand and listen, is the personality qualities that can make a difference on any settlement issues.

Three couples with their own story.
at the day that each of them make decision,
when the truth become clearly,
wheter you are ready or not,
you just have to accept it!!

All I can say, that’s life…
All I hope, each of them can continue life without anger,
and be happy in their new chapter of life.
Amien.

Monday, January 3, 2011

(28) Me, flying...

Cintaku..dan cara aku mencintai bagi sebagian orang mulai dianggap sebagai satu kebodohan. Mulai muncul pertanyaan apakah 'dia' layak untuk mendapatkan segenap rasa, keyakinan, dan perjuanganku. Mulai mengemuka pula anggapan dan pendapat yang sarkas tentang 'dia'. Ahhh..buatku, jika niat menyalahkan, selalu akan muncul 1001 alasan untuk menyalahkan. Aku lebih suka mencari 1001 alasan untuk bersyukur...

Aku 'terbang' bukan untuk memuaskan anggapan sebagian teman-teman yang ingin aku segera 'beranjak' dari daerah dimana menurut mereka aku telah disia-siakan. Hmmm..jadi terharu... Tetapi apapun itu, bagiku tak ada yang sia-sia.

Aku 'terbang' karena aku ingin semua rangkaian proses ada dalam keseimbangan.
Keseimbangan ini penting jika kita berbicara tentang keselarasan jangka panjang.
and everything it's still wonderful for me...

Happy new year to you all.
Good bless us.

to be continued...
Ketik Full Post disini

Tuesday, December 21, 2010

My struggle one...

Oktober tahun lalu, telpon pada satu pagi membuat hati ku kecut. Suara papa terdengar tegas dan singkat “segera pulang ke Belitung!. Kita tidak jadi bertemu di Bangka, mama kurang sehat”. Hatiku berdesir. Ini bukan instruksi biasa. Jika mengacu pada rencana, besok mama papa akan berangkat ke Bangka, dan aku menyusul satu hari kemudian langsung dari Bandung. Kami akan bertemu di acara silaturahim keluarga pelepasan saudara terkasih menuju tanah suci. Moment yang kutunggu-tunggu karena akan bertemu sanak keluarga.

Pagi itu, suara papa di seberang menyiratkan ‘sesuatu’ terjadi. Aku tak bisa menahan kegelisahan, dan ingin semuanya lebih jelas bagiku. Aku menelpon balik, minta tolong disambungkan kepada mama. Jeda sesaat, terdengar suara di seberang…… dan air mataku tumpah seketika. Papa mengambil alih telpon, menegaskan singkat ‘mama kena stroke, stroke ringan’. Oke..semua jelas. Aku dan kakakku diam sesaat, mengolah semua informasi yang mengejutkan ini, dan memutuskan segera pulang. Kuhubungi teman untuk mengurus tiket, kami langsung bersiap.

Setelah menempuh perjalanan Bandung-Jakarta, Jakarta-Belitung, sekitar pukul 4 sore kami tiba di rumah. Beberapa kerabat dan teman dekat keluarga tampak di teras ketika kami tiba. Semua seperti sedang menunggu kami. Begitu masuk kamar, mendapati sosok mama terkulai tak berdaya di tempat tidur…kuberitahu teman, itu bukan situasi yang mudah bagiku. Aku sudah berjanji pada diriku untuk sekuat mungkin tidak menangis, tapi aku kalah….

Inilah masa-masa di mana kami saling menguatkan sebagai satu keluarga. Semua terpukul, tetapi kami memilih untuk tak terpuruk. Saling memahami satu sama lain, kami semua sepakat bahwa mama harus tetap diajak bergembira. Untuk cepat beradaptasi dengan semua situasi ini, rumusnya hanya satu yaitu “menerima”. Satu persatu dari kami berusaha mendidik keras diri kami untuk legowo dan menerima semua apa adanya. “Penerimaan” ini terutama harus kami bangun dalam hati mama. Karenanya, setiap kali mama menangis menyadari sebelah tubuhnya tak berfungsi, aku memegang tangannya, kuletakkan di dadanya bersamaan dengan tanganku, kubisikkan lembut ke telinganya ‘terima…terima semuanya mama. Dengan penerimaan itu, maka Tuhan akan menguatkan mama”.

Kini, Desember 2010, mama telah dalam masa pulih yang semakin membaik. Sudah bisa berbicara, berjalan, memasak, dan jalan-jalan. Proses ini telah menjadi penguat untuk kami semakin tegar dan optimis. Bagi kami, mama selalu menjadi inspirasi tentang ketegaran dan keberanian. Ada banyak masa-masa sulit yang telah dilalui kami sebagai satu keluarga, dan mama selalu menjadi orang yang sigap dan tangguh dalam menjawab semua tantangan persoalan. Mama penuh kasih. Tak peduli berapa kali telah dibuat kecewa, dia tetap hadir dengan maafnya yang luas. Mama luar biasa karena dia adalah seseorang yang memilih menjadi ‘ibu’ bagi kami, bukan bertindak sebagai pemilik kami. Mama selalu menemani kami dengan doa dan harapan baiknya atas kami. Terima kasih Tuhan, telah memberi seorang mama yang luar biasa bagi kami…

Mama…
my struggle one.
I love you, we love you…

Selalulah berbahagia mama,
Tuhan mencintaimu.
Amin.

Selamat Hari Ibu,
22 Desember 2010

Thursday, November 18, 2010

(27) Memantaskan 'ketakutan'

FEAR…
Itulah judul email Bro yang pertama kali untukku. Email itu adalah tanggapan pertama Bro atas situasi hati ku. Niatku untuk berbagi kebeningan doa, Tuhan jawab dengan banyak ‘bonus’, ketika dalam proses perbincangan, Bro mengajak aku untuk meluaskan perspektif, menggali lebih dalam, melangkah lebih lugas, juga bertafakur lebih jujur. Pada akhirnya aku menemukan arti pertemuan dan perbincangan antara aku dan Bro, telah melampaui dari apa yang kuniatkan semula. Semua yang kudapati telah lebih dari sekadar berbagi doa.

Pangeranku…
Ada banyak pelajaran yang kudapat dari Bro, yang sesungguhnya ingin kubagi denganmu. Mungkin itu bisa menginspirasimu. Semua situasimu, tanpa harus memasukkan kehadiran aku ke dalam hiruk pikuknya pun, telah menjadi benang yang cukup rumit untuk kau urai. Aku mendidik diriku untuk mengerti dan memahami bahwa situasi ini tidak mudah bagimu. Semua sisi solusi berpotensi untuk menjadi ‘bola panas’ yang tidak ingin kau lemparkan pada siapapun. Satu saat, jika semua terlalu berlimpah untuk kau tampung dalam hati dan pikiranmu, ajaklah orang yang kamu percaya untuk berbagi sudut pandang, bertukar pengalaman, berbincang dalam emosi yang teduh.

Kamu dan aku dalam stuasi yang sama tidak pastinya. Potensi kita untuk terluka, adalah sama besarnya. Tadinya aku berharap kita dapat saling menemani dalam menghadapi ini semua. Tapi aku tak ingin membuat situasi menjadi lebih keruh, terutama bagi hatimu. Aku diam, belum pergi, tak ingin pergi. Saat ini kita seperti sedang berjalan pada lorong yang berbeda. Bagiku, adalah bagian dari proses ketika ada ‘tembok’ yang membentang antara aku dan kamu. Dari sisimu, kau bisa memberi makna apapun pada semua keterbatasan situasi ini. Buatku, tak peduli seberapa tebal dan tinggi ‘tembok’ yang dibangun untuk menghalangi aku dan kamu, bahkan jika itu adalah ‘tembok’ yang dibangun olehmu sekalipun!!!
Lets struggling to surrender :).

I do believe, if we are meant to be, if you are my destiny, and I’am the one for you, maka Tuhan yang akan memampukan kita untuk melampaui semuanya. Keberadaan, ketinggian, dan ketebalan ‘rintangan’ akan selalu ada dan sejalan dengan bangunan persepsi kita akan keterbatasan, ketakutan, juga harapan. So, built the limit, and jump!!! Melompatlah!!! Ambillah bekal semampu yang bisa kau bawa, dari ingatanmu, pengalamanmu, juga perenunganmu. Semua yang sudah kau ketahui juga kau yakini, adalah ‘kepastian’ yang bisa kau genggam, bekal yang telah Tuhan izinkan ada dalam pengetahuan dan pemahamanmu. Olah dan proses-lah itu semua dalam ruang batin, juga akal logismu.

Melangkahlah demi masa depanmu, for your happiness, for the value of your life!!!
With or without me, I believe you will do something about your life.
Tetaplah semangat dengan semua harapan dan cita-citamu…
Tetaplah optimis bahwa semua akan menjadi lebih baik situasinya…
Tetaplah sabar mengurai ‘kekalutan’ itu…

Aku sendiri sedang dalam perjalanan menuju awal baru di penghujung Desember tahun ini. Aku berjalan dalam harapan juga ketakutan. Harapan yang kian kokoh dalam doa dan keyakinan, juga ketakutan akankah kau mengambil atau melepaskan aku??? Aku tak pernah berniat pergi. Tapi genggaman satu tangan akan selalu membutuhkan satu tangan yang lain untuk bertahan. Sepenuh hati aku berdoa, meminta kepada Tuhan, semoga kau tidak melepaskan aku, karena sungguh,
aku tak pernah ingin pergi darimu…

But still… you have your own decision,
and none of us knows what might be happened in the future.
All I believe that I have to make decision, and I did...

To be continued…

Tuesday, November 2, 2010

(26) Another 'hint'

Ahhhh... setelah hampir 3 minggu tulisan itu kupindahkan ke laptop mungilku yang kuberi nama 'si merah', akhirnya baru pagi ini aku dapat tuntaskan membacanya. Ada banyak gado-gado alasan. Pertama, karena tulisan itu memang datang padaku di tengah-tengah aku sedang tak luang waktu untuk berakses ria dengan internet. Lepas dari acara 'sibuk' di pegunungan, aku pun dilanda penyakit separuh lupa, dan ketika ingat, aku pun disapa lagi oleh penyakit separuh malas.. hehehehe.

And then, aku menemukan tulisan itu sebagai another 'hint' for me :)

Teman, pernahkah kau merasa 'sudah paham' tetapi tak cukup punya kemauan untuk melangkah?. Kau tahu apa yang harus dilakukan, tetapi langkah terasa dipaku, akhirnya kita tak kunjung beranjak untuk berbuat yang terbaik pada 'hari ini' dan 'saat ini'. Dalam sekilas membahas tentang "Ho'oponopono", pagi ini aku mengajak seorang teman untuk bersedia saling mengingatkan, agar pemahaman kami atas sesuatu tak hanya bersinar di alam pikir saja, tetapi kemudian tumpul dalam aplikasi perbuatan. Jangan sampai... Bukankah gagal ilmu tanpa amal, tak sempurna niat tanpa ikhtiar???

Dalam konteks ini, Bro semakin melengkapi pemahamanku ketika dia berbagi tentang Manajemen Ketakutan. Pernah, dalam satu dialog aku salah kata ketika mengatakan ingin hidup with "no worry". Menyambut kalimatku, Bro langsung tegas mengatakan, bahwa hidup tanpa KETAKUTAN adalah bukan hidup, tetapi MATI. Bahwa, semakin tinggi tingkat ketakutan yang dihadapi, maka semakin kita akan mendapati kehidupan yang 'hidup'. Bro juga menggarisbawahi, bukan keberanian yang dibutuhkan untuk melangkah, tetapi kemauan. Keberanian itu sendiri hanyalah alat dari kemauan yang dideklarasikan.

Dalam ketidakmauan untuk melangkah, banyak alasan yang bisa kita buat. Setiap alasan bisa jadi punya nama yang berbeda, tetapi menurut Bro, semuanya berangkat dan bermula dari satu hal, yaitu KETAKUTAN. Ketakutan akan ketidakbahagiaan, ketakutan akan kemiskinan, ketakutan akan dikhianati, ketakutan akan tidak dihargai, ketakutan akan ditinggalkan, dan lain-lain. Seringkali tersedia banyak kesempatan, tetapi kita tak menjawabnya dengan satu keputusan yang lugas. Asumsi tentang dimensi 'waktu' seringkali menjadi penjara, dan yang lebih tak sehatnya, penjara waktu itu biasanya muncul dalam bentuk 'past' atau 'future', bukan 'NOW'.

Yup, beberapa penggal kalimat Bro yang aku baca dalam tulisannya itu, sekali lagi... membuat aku tersenyum, tertawa, sekaligus merasa 'ditampar'. Tapi tamparan ini tidak terasa keras dan menyakitkan. Mungkin karena sebelumnya aku sudah 'menampar' diriku, sebagai bentuk dari latihan mental, ketika aku medeklarasikan kemauanku untuk tak berlama-lama ada di kota abu-abu.

Tuhan memang selalu bergerak misterius dengan semua rencanaNya. Dia memunculkan begitu banyak variasi kenyataan yang dapat terjadi dalam hidup seseorang. Dia memutuskan, tetapi membiarkan kita memilih. "Pilihlah...maka Tuhan yang akan menjagamu, dan Tuhan yang akan mengantarkanmu. Dan sebagaimana pengantaran dan penjagaan pada umumnya, Tuhan akan selalu tegas dalam memberi lampu merah". Itulah yang pernah Bro katakan padaku, beberapa waktu yang lalu.

Aku merasa seperti sedang melangkah kedalam jurang yang gelap,
yang aku tak tahu apakah dasar jurang itu akan ramah atau menyakitiku.

Aku KETAKUTAN...

to be continued...

Monday, October 25, 2010

(25) I do.

Life is always in the balance
and being in love, it's a life balanced.
It does.

Love surrounded by strong believe, that's what i have NOW.
Eventhough I love to give my tomorrow, there is no tomorrow.
Nothing i can promise for tomorrow.

Stay and leaving just a question of life.
Love comes and goes without asking.
unpredictable...

Dear my prince,
I'll give my best to keep NOW become FOREVER, if u said so.
Coz with no doubt, I do wanna stay here.
I do.

to be continued...

Thursday, October 7, 2010

(24) Sabtu ceriaaaaaaaaaa ;)

Akhir pekan awal Oktober 2010, adalah salah satu dari sekian banyak moment berkesanku bersama kehidupan. Tulisan ini kubagi dan kunyatakan sebagai salah satu bentuk ekspresi bersyukur-ku atas banyak hal baik yang Tuhan izinkan terjadi padaku. Sebelumnya, sempat terpikir untuk memisahkan tulisan ini dari kisah "Esprit Glow". Tetapi kemudian aku menyadari, bahwa kisah ini pun sangat bertaut dengan proses perjalanan 'rasa' ku bersama sang pangeran.

Bagaimana semua saling mengait satu sama lain ???
Tak bisa lain kukatakan bahwa simpul yang menautkan kami adalah "spirit" teman...
Ya. True spirit yang membuat kisah kami saling terhubung satu sama lain.
Lebih dari itu, keterkaitan kisah ini adalah karena orang yang akan kuceritakan (selanjutnya akan kutulis dengan nama panggilan 'Bro'), juga temasuk salah satu dari sekian orang yang bersedia berbagi kebeningan doa atas nama cinta yang aku rasakan untuk pangeranku.

***

Perkenalanku dengan Bro difasilitasi oleh seorang sahabat dekatku. Awalnya sangat sederhana, bermula dari ‘statement’ Bro yang dibagi ke aku oleh temanku. Radar intuisiku seketika menangkap kalau Bro ‘different’. Pada sahabatku aku minta untuk dikenalkan. Kami pun berkenalan. Surprise lagi buatku ketika mengetahui, bahwa ternyata sudah sejak beberapa tahun yang lalu sahabatku ini berniat mengenalkan aku pada Bro. Bahkan, pada satu waktu ketika aku dan Bro berada di kota yang sama, dia berniat mempertemukan dan memperkenalkan kami. Tapi karena sempitnya waktu, niat ditunda oleh sahabatku. Aku sendiri sama sekali tidak tahu menahu mengenai niatnya. Baru beberapa bulan yang lalu kami dikenalkan, dan baru beberapa hari yang lalu sahabatku terbuka tentang niat ‘terselubung’nya itu. Sahabatku bilang, tampaknya memang baru sekarang jodohnya kami untuk dipertemukan. Buatku sendiri: everything just in perfect time ;).

Well..well..well… perbincangan pun dimulai…

Aku menulis surat elektronik padanya, bertanya banyak hal, dan mendapati dia berkenan menjawab dan mendampingi rasa ingin tahuku dengan perhatian dan kesabaran. Belakangan kuketahui ternyata perbincangan melalui surat dengannya, bukanlah sesuatu yang bisa terjadi begitu saja. Suratku sebelum sampai ke Bro ternyata harus melewati semacam proses ‘sortir’ oleh seseorang yang bisa dikatakan 'berkuasa' untuk meneruskan atau menahan surat ku itu. Hmmm… suratku sampai selamat kepada Bro, kurasa juga ada campur tangan rekomendasi sahabatku ;).

Bersama Bro aku menemukan dan merasakan atmosfir perbincangan yang 'menggigit'. Pada sosoknya aku menemukan pribadi dengan keunikan yang menurutku sangat 'limited edition'. Teman, aku selalu mudah terpikat dengan orang-orang yang dalam jiwanya menyala semangat untuk 'hidup' dan 'menghidupi' kehidupan. Orang-orang yang peduli tidak hanya tentang hidupnya sendiri, tetapi penuh kasih pada lebih banyak hidup orang lain. Orang-orang yang menampilkan kesederhaan tetapi sesungguhnya menyimpan kedalaman dan kekayaan jiwa yang luar biasa. Orang-orang yang tidak ‘kalap’ dengan pernghormatan manusia, karena sadar hanya Tuhan yang layak untuk dimuliakan dan diagungkan. Sayang, orang-orang seperti ini cukup langka untuk ditemukan, karena dunia semakin hari semakin sesak dengan orang-orang berkepribadian ‘topeng’. Aku bersyukur telah menemukan lagi satu dari sedikit orang-orang 'langka' itu.

Bro memunculkan banyak ‘curious’ dalam hatiku. Melalui perbincangan2 kecil, dia mengajakku untuk meneropong sekaligus menyelami lebih ‘jauh’ dan lebih ‘dalam’ tentang hakikat dari banyak hal. Bagi Bro… Jiwa yang ‘hidup’ (Bro mungkin akan membahasakannnya dengan ‘freedom’) adalah titik awal dari semua hal pengundang keajaiban ke dalam hidup seseorang. Bahwa jiwa yang ‘mencari’ akan selalu diiringi oleh pembinaan dan pendampingan secara langsung oleh Tuhan, bahwa Tuhan tidak pernah mengingkari hambaNya yang berserah. Latar belakang pengalaman hidupnya yang masih samar buatku, kuyakin telah menjadi proses yang mengasah, menghempaskan, melukai, juga menguatkan, sehingga membentuk dan menjadikan Bro seperti riil adanya dia saat ini. Semoga Tuhan selalu mencintainya.

Pernah Bro berbicara tentang proses ‘transformasi diri’ yang menurut Bro sangat sederhana sejatinya. Transformasi memang selalu melesatkan orang, dan kebanyakan orang menginginkan karena bagusnya saja, tetapi lupa bahwa di belakang semua itu akan selalu ada proses yang harus di’bayar’. Bro tidak suka sesuatu yang ragu dan ambigu. Menurut dia, kontemplasi itu ada bersama tindakan, bukan mendahului tindakan. Hanya dibutuhkan ‘kemauan’ untuk memilih, sedang keberanian adalah bentuk motivasi saja.

dan lain-lain…. dan lain-lain…. :)

Satu lagi dari banyak hal yang membuatku terkesan adalah ketika Bro berkenan berbagi pemahaman dan pengalamannya tentang bagaimana “mendidik dengan cinta yang sadar". Aku punya minat yang sangat besar dalam bidang pendidikan. Yaitu pendidikan yang berbicara tidak hanya sebatas transfer ilmu untuk memenuhi ranah kognitif, tetapi lebih jauh, bagaimana menjalankan konsep pendidikan yang dilandasi dan diisi oleh cinta, dalam keteladanan dan pendampingan yang utuh dari orangtua. Menjalankan konsep pendidikan seperti demikian, dibutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan kognitif dari para orangtua. Mengutip perkataan Bro “Cinta yang membimbing, bukan ilmu, bukan uang”.

Satu catatan penting buatku, Bro, bukan hanya bicara, tetapi dia melakukannya. Dalam konteks pendidikan ini, Bro bahkan sudah membagi sebagian dari pemahaman dan perilakunya tentang ‘cinta yang sadar’ itu ke dalam sebuah buku. Aku beruntung mendapat satu buku, dikirim langsung ke alamatku. Di halaman awal Bro selipkan pesan singkat: “Ivy, janganlah ini menambah berat permenunganmu, tapi hendaklah ini meneguhkanmu, melangkah dan mewujud”. Ketika membaca itu aku merasakan ada energi yang masuk ke tubuhku, membuatku bergetar dan tersenyum happy. Bagiku, itu adalah pertanda bahwa Bro mengirim kata-kata itu dengan hati yang tulus untukku. Gelombang ketulusan tidak pernah salah alamat, itu yang sejak dulu kuyakini.

Bro banyak memberitahu dan membantuku. Pernah satu waktu aku bertanya tentang sesuatu padanya. Membaca jawabannya membuatku tertawa dan tersenyum hampir seharian akibat isi surat yang sebenarnya ‘menampar’ tetapi dikemas dengan jenaka. Pada saat kali pertama aku menerima telpon langsung dari Bro, kusinggung ‘tamparan’ nya itu, dan kami pun tertawa bersama. Bro mentertawakan aku, dan aku mentertawakan diri sendiri.

Ahhhh… You know my friends… Jika saat ini aku tidak sedang dalam komunikasi yang terputus, akan kubagi dengan pangeranku tentang berbagai isi perbincanganku bersama Bro. Kuyakin, pangeranku akan menyukainya, dan kami akan bersemangat untuk menelusuri lebih jauh tentang hal-hal baru (juga tentang hal-hal lama yang disadarkan dan diingatkan kembali) yang disampaikan oleh Bro.

Berbagi dengan orang-orang yang istimewa di hatimu, membuat semua akan menjadi lebih indah dan bermakna. Perbincanganku dengan pangeran, tak selalu tentang hal-hal yang serius. Diantara berbagai celetukan konyolnya yang sangat mudah membuatku tertawa, dia senang berdiskusi dan berbincang tentang permasalahan umat. Diantaranya bagaimana situasi perbedaaan yang seringkali disikapi dengan pikiran yang sempit lagi dangkal, pertengkaran2 dan pertikaian sesama saudara, sampai perbincangan tentang industri musik yang sering buat dia ‘gemes’ karena dianggap terlalu mengikuti selera pasar sehingga mengesampingkan kualitas...hehehe.

Pangeranku, juga Bro, sama-sama prihatin pada banyak hal yang mungkin bagi kebanyakan orang sudah dianggap ‘biasa’ dan tidak perlu dipikirkan. Mereka mengambil jalur yang tidak biasa dalam cara berpikir, sudut penyikapan, dan aktualisasi tindakan. Mereka ‘mencari’ dan senang ‘mencari’, karena mereka adalah seorang 'pencari'.

****

I miss my prince...

****

To be continued….

Monday, October 4, 2010

(23) Follow your heart

Follow my heart…
itulah yang aku lakukan ketika memulai semua perjalanan 'rasa' ini. Tak tahu bagaimana akan menjalaninya, juga akan berujung kemana semua proses ini. Titik awal semuanya adalah keyakinan. Keyakinan yang kupilih dan kuikuti jalannya. Kepada Tuhan, aku mendedikasikan diriku sepenuhnya pada proses ini, pada keyakinan ini. Aku memilih untuk menerima dan bertindak atas keyakinan ini. Dan aku mendapati betapa Tuhan telah memudahkan aku menjalani keyakinan ini.

“Mungkin...Keyakinan itu adalah motivasi dari Tuhan untukmu”, begitu sejawat yang kutuakan dan kuhormati mewejangi ku, ketika aku berbagi padanya tentang bibit keyakinan yang tumbuh misterius dalam hatiku, pada awal-awal masa perkenalanku dengan pangeran. Kukatakan misterius karena aku memang tak mampu menjelaskannya dengan akal dan nalar. Pertemuan fisik dengan pangeranku hanya (baru) terjadi 2 kali. Komunikasi kami sangat tak bisa kukatakan intens. Tapi aku mendapati hatiku mampu untuk mempercayainya, tanpa perlu diyakinkan oleh siapapun atau apapun.

Follow your heart...
Ya, jika kau berada di satu simpang keyakinan, dan kau mencoba berbagi dilema itu dengan orang lain, ntah itu orang tua, keluarga terdekat, atau sahabat: jawaban yang biasanya akan kau dapat adalah: just follow your heart...

Kuberitahu teman, tak mudah menyerahkan semuanya pada apa yang hatimu katakan. Hati akan selalu jujur, dan kejujuran akan selalu membutuhkan keberanian, baik untuk menerima nya, juga untuk bertindak atas penerimaan itu. Bahasa hati adalah murni, dan akan selalu benar, karena Tuhan ada disana. Hanya terkadang, kebenaran itu terselimuti dengan sangat halus oleh berbagai pertimbangan pemikiran yang seringkali justru menyeret kita semakin menjauh dari substansi dan akar masalah.

Just follow your heart my prince...
Semampu yang bisa kau dengarkan dari apa yang hatimu katakan tentang semua ini... just follow it. Aku percaya hatimu akan jernih melihat ini semua. Kau memiliki hati yang lembut, aku merasakan itu. Kelembutan dan kejernihan hatimu, aku yakin akan memudahkanmu untuk mengenali semua rangkaian proses yang membentuk peristiwa ini, satu persatu, dalam bentuknya yang asli.

Perhaps, dalam salah satu celah prosesnya, kau akan menemukan apa yang kau cari selama ini. Penemuan yang akan membawamu pada satu pilihan yang tegas dan jelas. Pilihan yang akan melepaskanmu dari belenggu keragu-raguan. Pilihan yang membuatmu yakin menatap masa depanmu, bersama siapapun yang kau inginkan ada disampingmu untuk berbagi masa depan. Siapapun yang kau yakini...

So, dengan apa yang sudah dan masih kau pilih saat ini…
Berbahagialah pangeranku.... berbahagialah...

Dari hatiku, dalam sayang dan peduliku padamu,
dimanapun aku berada, dan bagaimanapun situasi memisahkan aku darimu,
aku akan selalu menemanimu dengan doa.
selalu...

To be continued…

Wednesday, September 29, 2010

(22) Words for her...

Walau kita tak (mungkin belum) saling mengenal dalam ruang fisik, aku yakin kau merasakan ‘sesuatu’ tentang hadirnya aku dalam lingkungan pertemanan kekasihmu. Aku sudah merasakan dan meyakini itu bahkan sebelum kau menemukan fakta tentang 'kebenaran' cintaku pada kekasihmu. Berlatar belakang hubungan yang sudah berjalan bilangan tahun, kebersamaan yang telah terangkai dalam berbagai kisahnya, juga ‘keterikatan’ dan ‘keterhubungan’ emosional satu sama lain di antara kalian berdua... adalah sangat wajar ketika kepekaan dan intuisi mu mengatakan ada 'sesuatu' tentang aku.

Saat kamu khawatir dengan “kebenaran” tentang cinta dan keyakinanku pada kekasihmu, bagiku adalah reaksi yang wajar. Aku hanya berharap semoga kekhawatiran itu tidak menenggelamkanmu dalam prasangka, kebencian dan juga amarah, baik pada kekasihmu, juga padaku. Menerima hadirku sebagai suatu ancaman, sungguh hanya akan membuat hatimu lelah dan terbebani, dan rasanya akan sangat tidak nyaman untuk dirimu sendiri. Kau tidak perlu melewati semua ketidaknyamanan itu jika berkenan memilih untuk merangkul semua realitas ini dalam damai.

Sungguh tak perlu merasa khawatir ketika kau yakin bahwa kekasihmu ada bersamamu, dan kau mempercayainya!!! Kaulah yang saat ini terpilih. Percayalah, sesuatu yang memang sudah Tuhan tetapkan untukmu, tak akan pernah bisa teralihkan pada siapapun. Begitu pula jika sesuatu telah ditetapkan Tuhan bukan untukmu, maka kau pun tak kan pernah bisa mencegahnya untuk teralihkan. Siapapun tak bisa membantah dan mengingkari kenyataan, bahwa Takdir adalah misteri dan kuasa Tuhan.

Tetap jujur kukatakan, bahwa aku dalam rasa cinta yang semakin teguh untuk kekasihmu. Sekali lagi, cinta ini tak menuntut apapun atau siapapun untuk membuatnya ‘ada’. Cinta ini akan bergerak dan mengalir sesuai kodratnya, yang dalam perjalananannya, mungkin akan melukai atau membahagiakan seseorang. Seseorang itu bisa berarti siapapun. Saat ini, fakta jelas berkata bahwa dia memilihmu, bukan aku. Karenanya, jika kau benar mencintai kekasihmu, jadilah cinta yang sebenar-benarnya untuk dia, dan berbahagialah bersama cinta itu.

Di masa depan.. entah kapan itu … esok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau bahkan tahun depan… akan terjawab semua teka-teki Takdir ini. Aku yakin semua ini akan menemukan ‘ujung’nya. Dan selama Tuhan belum memutuskan kehendakNya, setiap dari kita bertiga punya peluang yang sama untuk berikhtiar, memilih, dan memutuskan.

Atas nama cinta yang kita miliki,
dengan ruang istimewa yang sudah kau miliki bersama kekasihmu...
juga aku dengan harapan dan keyakinanku atas pangeranku...
mari kita berjuang dengan cara kita masing-masing.
Berjuang dengan cara yang baik, tanpa melukai arti dari kebaikan itu sendiri.

semoga kita dapat saling mengerti...

to be continued...

Thursday, September 23, 2010

(21) Selingkuh ???

Teman, telah mengemuka beberapa asumsi bahwa kehadiranku dianggap 'merusak' apa yang sudah terjalin antara pangeranku dan kekasihnya. Sungguh, aku merasa perlu untuk meluruskan ini, karena aku ingin menjaga nama baik pangeranku. Dia tidak pernah selingkuh, dan kami tidak berselingkuh. Pangeranku tahu dan mengerti betul bahwa aku tidak pernah memaksa dia dengan semua perasaanku padanya. Aku menghormati dia sebagaimana aku menghormati kekasihnya.

Mari kubagi sebagian fakta dengan lebih lugas…

Aku jatuh cinta dengan seorang pria yang dikenalkan padaku. Kami berkomunikasi sebagai dua orang sahabat, berbicara dan berdiskusi tentang banyak hal. Seiring keyakinan ku yang semakin menguat, aku melugaskan perasaanku padanya. Dia menerima kelugasanku dengan baik, sambil tetap memberiku garis batas bahwa aku tak lebih dari seorang sahabat baginya. Aku tetap mencintainya dengan caraku, membiarkan dia tahu bahwa aku mencintainya selama cinta ini diizinkan oleh Tuhan ada dalam hatiku. Kami saling menghormati pilihan dan batasan kami masing-masing. Teman... apakah bisa hal demikian disebut perselingkuhan???

Bagi siapapun, tentu sah-sah saja untuk memberikan penilaian apapun atas proses ini. Keyakinan yang mengakar misterius dalam hatiku, relasi-relasi unik antara aku dan pangeranku, tak mampu kujelaskan penuh pada setiap orang. Aku hanya berlaku sederhana dengan MENERIMA cinta ini. Maafkan jika aku terkesan egois, namun jika ikhtiarku dianggap menyerobot batas teritori seseorang, ketahuilah, selama komitmen belum dikukuhkan dalam IJAB KABUL, maka semua masih menjadi semesta kemungkinan, baik untukku, pangeranku, juga kekasihya.

Buatku, cinta adalah fitrah manusia yang datang dari Tuhan tanpa kau bisa mengatur tentang kapan tiba waktunya, atau kepada siapa kau hendak jatuh cinta. Cinta dalam bentuknya yang paling dasar adalah sesuatu yang murni dan asli. Sesuatu yang asli tidak memerlukan alasan, perantara ataupun pembenaran untuk menjadi ‘ada’, karena secara hakikat dia sudah benar 'ada'nya. Terima kasihku kepada seorang sahabat yang sudah berkenan berbagi ilmu dan pemahamannya denganku tentang proses mem'bening'kan doa, memisahkan mana yang asli dan mana yang palsu.

Murni dan palsu kadangkala memang sering menjadi bias dan kabur. Mungkin karena niat yang keliru, atau karena penuhnya hati dengan asesoris pemikiran yang sesungguhnya jauh dari substansi. Kebenaran kadang terlampau sederhana hingga kita terlewat untuk mengenalinya. InsyaAllah, telah kukenali cinta ini sebagai sesuatu yang murni, yang datang dari Tuhan untukku, dan aku tak ingin menyia-nyiakannya. Aku yakin, jika berkenan melihat perjalanan proses ini dengan hati yang jernih lagi bening, insyaAllah hanya akan mendapati kenyataan bahwa kita semua hanyalah manusia yang punya kuasa untuk membuat rencana, tetapi tak berkuasa untuk menjadikanya TERJADI tanpa izin dan kehendakNya.

Jika memang harus ada yang tersakiti dengan perjalanan proses ini, ntah itu aku, pangeranku, ataupun kekasihnya... maka itulah realitas yang butuh untuk kami hadapi. Aku yakin semua kejadian ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan kepada kami. Aku hanya ingin meluruskan niat, lalu bergerak positif pada garis ikhtiar. Penting untuk berlaku 'lurus' dalam ikhtiar, karena sungguh... aku meniatkan kebaikan dunia dan akhirat atas semua perjalanan proses ini. So, tak perlu khawatir dengan caraku berproses, karena aku sama sekali tidak berniat menodai proses ini dengan cara-cara yang tidak baik, culas, atau manipulatif. Tuhan Maha Adil dengan semua niat yang tersimpan dalam hati manusia. Kebaikan hanya akan terpaut dengan kebaikan.

Pangeranku tidak berselingkuh dan aku tidak mengajaknya untuk berselingkuh.
Kami hanyalah jiwa-jiwa yang sedang diberi pilihan oleh Tuhan.
Pilihan mana yang akan disetujui olehNya?
Wallahualam bisshawab.

To be continued…

Monday, September 20, 2010

(20) DO the Love....

Ada beberapa nama istimewa yang kupasang ringtone khusus di handphoneku, salah satunya adalah nada panggil untuk nama pangeranku. Amat sangat jarang aku menerima telepon dari pangeranku, dan tengah malam itu, nada panggil istimewa itu membangunkan tidurku, membawa berita tentang aku, pangeranku, dan kekasihnya…

Malam itu adalah malam kami bertiga bertemu dalam kisah ini. Kami bertemu dalam ruang ‘rasa’ dan intuisi melalui kebenaran yang menyeruak ke permukaan. Seseorang terluka karena kebenaran itu. Dia adalah kekasih pangeranku. Sungguh aku tak berniat menyakiti siapapun. Dalam sudut pandangku, setiap sisi konsekuensi dari kebenaran ini adalah ‘ruang belajar’ untuk masing-masing dari kami. Cemburu menjadi wajar, gelisah dalam batas tertentu adalah manusiawi. Sejak awal aku yakin, pada titik waktu tertentu, semua yang terkait proses ini akan mengetahui kebenaran ini. Kebenaran tentang cinta dan keyakinanku. Dalam situasi masing-masing, aku harap kami bertiga dapat tetap saling menghormati.

Lalu, apa yang terpahami oleh hatiku tentang semua rangkaian proses ini???

So far…

Aku merasakan bahwa cinta ini berproses, bergerak, dan beranjak dari waktu ke waktu. Sejak muncul tak terduga dalam hatiku, lalu menguat dalam keyakinan hingga detik ini, cinta ini telah menunjukkan banyak keajaibannya padaku. Aku merasa tak perlu berdebat dengan situasiku yang ‘terlihat’ rumit, ataupun sibuk mempertanyakan kenapa cintaku justru tumbuh untuk seseorang yang sudah memiliki kekasih. Tuhan selalu menyimpan alasan baik untuk setiap kejadian. Cukup jalani semua ini apa adanya. Aku percaya “THERE IS NO COINCIDENCE” in this world, pun termasuk pertemuanku dengan pangeranku.

Aku memahami hidup sebagai rangkaian kesempatan dan pilihan yang disediakan oleh Tuhan. Setiap pilihan membawa serta semua konsekuensinya. Aku telah memilih cinta ini, menetapkan tujuanku, dan berjalan pada garis ikhtiar untuk mewujudkannya. Pada ruang yang berbeda, sejauh yang bisa kupahami dari komunikasi verbalnya padaku, pangeranku pun sudah memilih. Kami sudah memilih jalan masing-masing. Kemana masing-masing pilihan ini akan berujung, tak ada satupun dari kami yang mengetahui. Satu hal yang jelas bagi hatiku, nama pangeran semakin tegap dalam doa-doaku.

Teman, keyakinan ini bergerak misterius dalam hatiku. Jejaknya gaib, tetapi YAKIN itu nyata ada dalam hatiku, tegap dan kokoh. Dari jauh, menembus ratus kilometer, jelas suara pangeranku menghantarkan kalimat “aku tidak akan menghubungimu lagi, aku mencintai pacarku dan tidak mau kehilangan dia”. Aku tidak tahu kenapa, kata-kata itu justru semakin menebalkan keyakinanku atas proses ini. Aku tahu aku akan menangis rapuh jika benar dia terlepas dari sisiku. Tapi semua risiko sebanding dengan berharganya keyakinan ini untuk di perjuangkan. Lillahi Ta’Ala… kuniatkan semua bentuk ikhtiar sebagai bukti dihadapan Tuhan bahwa aku bersungguh-sungguh dengan semua yang kuniatkan atas perasaan dan keyakinan ini.

Kepada Tuhan aku berbicara tentang semuanya, cintaku, harapan dan keyakinanku, juga ketidaktahuan dan ketidakberdayaanku atas kuasaNya. Kepada orangtua aku bebaskan hati mereka untuk jernih melihat proses ini dan menemaniku sesuai arah keyakinan mereka. Alhamdulillah, aku mendapati mereka ada bersamaku dalam doa. Mereka merestui cintaku. Juga sahabat dan teman-teman yang turut berbagi kebeningan dalam doa atas nama cinta yang kurasakan untuk pangeranku. Aku melihat dan merasakan ketulusan yang sebenar-benarnya, seiring harapan mereka semoga Tuhan memberikan yang terbaik untukku dan pangeranku.

Kulepaskan pangeranku untuk berproses dengan keyakinannya, membiarkan dia mengolah semuanya dalam ruang batin yang jernih. Tidak satupun dari kami bertiga yang mampu melawan kuasa Tuhan. Dalam semua harapan dan mimpi kami, aku, pangeranku, dan kekasihnya… kami mutlak dibatasi oleh kehendak Tuhan. Aku telah memilih cintaku, mengikhtiarkannya, lalu menyerahkannya kepada Tuhan…

Mengutip perkataan seorang sahabat
“DO the Love and may LOVE will love you”
semoga DIA selalu mencintaiku…

to be continued….

Thursday, August 12, 2010

(19) Mendalami keberserahan

Apa yang bisa kau lakukan teman? Ketika rasa dan keyakinanmu tak bergeming, tetapi realitas menampakkan wajah yang apa adanya. Kau menoleh ke belakang, meneliti setiap jejak do’a dan proses yang telah dilalui, kekuatan untuk tidak menyerah dan teguh pada keyakinan bahwa ‘akan tiba waktunya’ untukmu. Kemudian waktu terus membawa langkahmu, sampai saat kamu 'bertemu' dan tanpa ragu bisa mengatakan “inilah yang kucari dan kubutuhkan”. Tapi tetap, Tuhan masih menghamparkan kisahmu seperti puzzle yang belum tersusun….

Dalam salah satu penggal kisahku, aku menulis “berserah tetapi bukan menyerah!” Sungguh, tak mudah merangkum dua kata tersebut dalam proses yang berjalan paralel. Menelusuri arti "tidak menyerah dalam keberserahan" telah membawaku pada gelombang rasa yang tak ternamai. Harapan dan keyakinan yang menguat dalam bayang harap-harap cemas. Keyakinan yang mengakar tapi dalam ketidaktahuan yang mutlak. Ketidaktahuan akan kemana semua ini berujung, definately membutuhkan keberserahan yang bukan basa basi. Keberserahan yang mewujud dalam kepenuhan dan kesadaran hati terdalam…

Banyak diberitakan tentang keajaiban ikhlas. Ketika ‘berserah’ telah menjadi kekuatan yang menggerakkan semesta untuk mendekatkan kita pada cita dan harapan. Tapi kau tak menghitung pamrih dalam berserah. Berserah berarti membiarkan Tuhan bekerja dengan caraNya. Seperti sedang menghadapi pertanyaan Tuhan, apakah sungguh hidup mati kita hanya untukNya. Jika YA, maka berserahlah. Prosesmu pun dijaga oleh alarm nurani yang selalu berbisik tegas pada hatimu tentang ketulusan yang tak bisa direkayasa. Bahwa kau tidak bisa pura-pura yakin, pura-pura mencintai ataupun pura-pura ikhlas... Tuhan Maha Tahu...

Kini, di simpang berbagai pilihan sikap yang tersedia untukku, aku tetap dalam pilihan yang tegas untuk berjuang atas keyakinanku. Tapi aku tak mau angkuh di mata Tuhan. Perjuangan ini ingin selalu kutemani dengan keberserahan yang sempurna di hadapanNya. Aku sedang melatih jiwaku untuk berjuang dalam keberserahan itu. Jelas terasa, dalam salah satu sudut keberserahan, aku mendapatiku diriku tersungkur dalam rasa sakit yang perih. Aku terluka dalam doa untuk kelapangan dan kemudahan pangeranku bersama pilihan hatinya. Mudah ketika berdoa meminta apa yang memang sungguh kita harapkan. Tetapi meminta sesuatu untuk orang lain, yang dengan pengabulan doa itu, kita tahu persis akan menyakiti dan melukai kita???

Separuh dari harapanku atas dia seperti telah memotong doaku. Ada penolakan terselubung, pertarungan antara apa yang kuyakin baik untuk diriku dan apa yang mungkin baik untuk dirinya. Kuberitahu teman, rasanya sakit sekali... Kau mulai terisak dalam tangis, dadamu terasa sempit seperti sedang dihantam oleh bongkah batu besar dan keras. Kau merapuh... Dengan sadar kau melepas doa itu terbang ke langit membawa separuh kekuatanmu, separuh nafasmu, separuh jiwamu... Seperti kau membelah dirimu, merelakan bagian yang telah membuatmu menjadi utuh untuk diberikan kepada orang lain. Kau tahu dan yakin bahwa Tuhan tak hendak dan tak sedang menyakitimu, tetapi tetap, rasa sakit itu nyata terasakan oleh hati dan fisikmu…

Lalu kenapa pula repot mendoakan dia jika memang tersakiti?? Bukankah akan jauh lebih sederhana jika aku fokus dengan doa yang pengabulannya tidak akan melukaiku??? Teman, berdoa untuk cintaku dan berdoa untuk cintanya, adalah pilihan yang tersedia untukku. Dan cintaku tak mampu egois. Pernahkah kau sangat ingin melihat seseorang bahagia, karena kebahagiaan dia menjadi begitu sangat penting untukmu? Mari tak menyebut ini sebagai pengorbanan, tetapi sebuah pelepasan. Pelepasan dalam kekuatan dan keyakinan.

Menyempurnakan keberserahan kepada Tuhan,
untuk dan atas semua rasa yang kini tengah menetap dalam hatiku...
bisakah???

to be continued...


Wednesday, August 11, 2010

Ramadhan (tetap) dicintai…

Tarawih pertama aku memilih untuk melaksanakannya di masjid dekat rumahku. Seperti sebelum-sebelumnya, hari pertama tarawih, masjid penuh sesak dengan jemaah. Baik di tempat laki-laki juga perempuan, shaf terlihat penuh. Panitia bahkan menggelar shaf tambahan di samping masjid (yang biasanya jadi jalan umum). Untuk shaf tambahan bagi jamaah perempuan di atur di belakang, berdampingan sesak dengan jamaah jamaah laki-laki pada sisi yang lain. Aku sendiri hampir tidak kebagian tempat, namun akhirnya berhasil ‘nyelip’ di shaf nomor dua dari depan. Alhamdulillah…

Pada bulan Ramadhan, aspek-aspek spiritual memang menjadi semakin kental ‘tampak’. Jargon-jargon tentang keistimewaan Ramadhan menjadi semakin sering terdengar. Betapa Ramadhan adalah bulan dimana Tuhan memberikan banyak ‘bonus’ pahala dan kemudahan-kemudahan. Saat Ramadhan dianggap saat yang paling tepat untuk setiap orang berbenah dan menata hati. Para kyai menjadi lebih sering tampil di televisi berbicara tentang keutamaan Ramadhan. Para pemimpin bangsa terlihat sangat agamis dengan ajakan untuk berlaku baik dan menghormati bulan suci Ramadhan.

Bagiku pribadi, Ramadhan ini kuniatkan untuk menjadi lebih ‘sunyi’ dan ‘hening’. Bersama teman kami berniat untuk safari dari masjid ke masjid, dengan selingan iktikaf pada weekend. Semoga menjadi rencana yang terwujud dan bermanfaat bagi kami. Aku benar2 berharap tidak terjadi lagi aku mendengarkan azan magrib di angkutan umum karena macet. Sedih sekali… But, this is life, sebelum aku mampu untuk mengatur waktu kerjaku sendiri, my own time, my own company…just follow the rule…:).

Marhaban Ya Ramadhan…
Semoga semangat Ramadhan tidak berhenti ketika Syawal tiba.
Semoga bukan hanya sekadar menjadi ‘jeda spriritual’
untuk kemudian menjadi mundur setelah Ramadhan usai.
Semoga selalu merasa seperti setiap bulan adalah Ramadhan.

Alhamdulillah…segala puji hanya bagi Allah…
Terlepas apakah masih sebatas euphoria semata…
Melihat masjid penuh sesak saat tarawih pertama semalam,
Ketika masih terselip keengganan dan rasa malu dalam hati untuk berbuat maksiat,
Ketika kesadaran untuk mensucikan hati terasa lebih menyala,
Ketika acara televisi jadi lebih santun bagi masyarakat,
Ketika tadabur dan tadarus Qur’an menjadi lebih menggila,
ada rasa bahagia dan haru di dada…

Semangat menyambut Ramadhan seperti itu menjadi sesuatu yang perlu disyukuri.
InsyaAllah, Ramadhan (tetap) dicintai dan dirindukan…